Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Ancaman Karhutla Di Depan Mata, Perkuat Mitigasi Hingga Siagakan Posko

Iwan Kawul • Selasa, 2 Juni 2026 | 16:27 WIB
Ilustrasi kebakaran lahan di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Ilustrasi kebakaran lahan di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat seiring memasuki musim kemarau tahun 2026 ini. 

Seluruh wilayah di Kabupaten Sukoharjo dinilai memiliki potensi terjadinya karhutla, meskipun berdasarkan catatan historis terdapat sejumlah kecamatan yang lebih sering mengalami kejadian tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, berdasarkan pemetaan yang dilakukan, wilayah yang selama ini paling sering terjadi kebakaran hutan dan lahan meliputi Kecamatan Bulu, Tawangsari, Weru, dan Nguter.

Namun demikian, ancaman karhutla tidak hanya terbatas pada wilayah tersebut.

Baca Juga: Kasus TBC Di Sukoharjo Tembus 431 Dalam Enam Bulan, Dinkes Ingatkan Gejala Awal

“Seluruh wilayah Kabupaten Sukoharjo berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, kewaspadaan harus ditingkatkan oleh seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah daerah,” ujar Ariyanto, Selasa (2/6).

Menurutnya, memasuki musim kemarau, kondisi vegetasi yang mengering dan minimnya curah hujan dapat memicu kebakaran dengan cepat, terutama pada lahan kosong, tegalan, maupun area hutan rakyat.

Selain faktor alam, sebagian besar kejadian karhutla juga dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah atau pembersihan lahan yang tidak terkendali.

Baca Juga: Nekat Balap Liar Di Jalan Sawah Mojolaban Sukoharjo, Dua Pemuda Akamsi Dikukut

Untuk mengantisipasi potensi tersebut, BPBD Sukoharjo bersama instansi terkait telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi.

Salah satunya melalui pembentukan dan aktivasi Posko Siaga Karhutla di tingkat kabupaten maupun kecamatan.

“Posko siaga berfungsi sebagai pusat koordinasi penanganan apabila terjadi kebakaran. Selain itu, kami juga memperkuat sarana komunikasi aktif melalui telepon, handy talky (HT), dan grup koordinasi lintas sektor,” jelasnya.

BPBD juga melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi cuaca, titik panas (hotspot), serta laporan dari masyarakat.

Jika situasi dinilai memerlukan langkah lebih lanjut, pemerintah daerah dapat menetapkan status siaga darurat sebagai dasar penguatan penanganan di lapangan.

Dalam upaya pencegahan, koordinasi lintas sektor terus diperkuat dengan melibatkan TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, relawan kebencanaan, hingga dunia usaha.

Rapat koordinasi secara berkala dilakukan untuk memastikan kesiapan personel maupun sarana pendukung.

Baca Juga: Gudang Sparepart di Polokarto Sukoharjo Ludes Terbakar, Kerugian Puluhan Juta Rupiah

“Sinergi antarinstansi menjadi kunci. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak harus bergerak bersama untuk menekan risiko kebakaran,” kata Ariyanto.

Selain itu, BPBD juga mengalokasikan dukungan operasional untuk kegiatan patroli dan pemadaman dini. Penyediaan logistik dasar serta kebutuhan lapangan disiapkan guna mempercepat respons ketika terjadi kejadian kebakaran.

Ariyanto menambahkan, sistem pelaporan dan evaluasi juga menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.

Baca Juga: Hasil TKA 2026 Kabupaten Sukoharjo, Ini Daftar Lima Besar SMP Terbaik

Setiap kejadian didokumentasikan dan dievaluasi sebagai bahan perbaikan langkah mitigasi ke depan. Laporan perkembangan situasi juga disampaikan secara berkala kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, kebun, maupun sampah sembarangan selama musim kemarau.

Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sebelum meluas.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi. Jika melihat adanya asap atau titik api, segera laporkan kepada perangkat desa, petugas pemadam kebakaran, atau BPBD,” tegas Ariyanto. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
#kebakaran hutan dan lahan #kemarau #karhutla #sukoharjo