RADARSOLO.COM - Gunung Purba Gajah Mungkur di Desa Kedungsono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo menyimpan banyak misteri.
Terutama gua kecil yang tersembunyi di antara bebatuan. Warga sekitar percaya, ada energi positif yang menjaga kawasan tersebut.
DI antara rimbunnya pepohonan dan hamparan batuan di Gunung Purba Gajah Mungkur, yang telah berusia jutaan tahun, tersimpan cerita spiritual tokoh besar asal Jawa, yakni KGPAA Mangkunegara I Raden Mas Said alias Pangeran Samber Nyawa.
Bagi warga Desa Kedungsono, Gunung Gajah Mungkur bukan sekadar perbukitan batu yang menjulang di ujung selatan Kota Makmur.
Baca Juga: Kandang Terbakar Di Mojolaban Sukoharjo, Kambing Dan Motor Roda Tiga Terpanggang
Tempat ini dipercaya menyimpan petilasan yang pernah digunakan Raden Mas Said saat bergerilya melawan penjajah di abad ke-18.
Tri Santoso, warga Desa Kedungsono mengaku gua di dekat puncak gunung dipercaya sebagai tempat semedi dan persinggahan Raden Mas Said.
“Orang-orang tua dulu cerita kalau tempat ini pernah digunakan Pangeran Samber Nyawa saat gerilya. Beliau sering berpindah-pindah tempat untuk menyusun strategi sekaligus tirakatan,” ujarnya.
Baca Juga: Miris! Dua Pelajar Di Baki Sukoharjo Terlibat Curanmor, Sikat Motor Ojol Kos
Meski tidak ada prasasti atau bukti tertulis terkait sejarah gua tersebut, warga sekitar percaya gua tersebut membawa keberkahan.
Terutama bagi pengunjung atau peziarah yang ingin ‘menepi’. Terutama pada malam-malam di penanggalan Jawa.
“Warga sini sering mendengar cerita ada orang sengaja datang untuk tirakat atau berdoa. Mereka percaya di sini memiliki aura yang kuat, karena pernah digunakan tokoh besar seperti Raden Mas Said,” imbuhnya.
Namanya alam terbuka dan sakral, pasti diiringi cerita-cerita mistis. Tri mengaku ada warga yang melihat kilatan cahaya samar yang muncul dari mulut di malam hari.
“Ada juga yang mengaku mendengar suara langkah kaki. Padahal di sekitar gua tidak ada siapa pun,” jelasnya.
Baca Juga: Ingin Kerja Migran Secara Legal, Disperinaker Sukoharjo Buka Layanan Konsultasi
Bagi warga sekitar, kisah-kisah tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan.
Mereka justru meyakini, tempat tersebut dijaga oleh energi positif yang berkaitan dengan perjuangan dan keteguhan hati Pangeran Sambernyawa.
“Kalau menurut cerita orang tua dulu, pas datang harus dengan niat baik dan sopan. Jangan berkata sembarangan apalagi merusak. Selama itu dilakukan, tidak ada yang perlu ditakuti,” bebernya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto