RADARSOLO.COM – Program ketahanan pangan di Desa Jangglengan, Kecamatan Nguter mulai menunjukkan hasil.
Dibuktikan dengan panen melon premium jenis sweet lavender. Melon ini dibudi daya di greenhouse milik BUMDes Lembayung Senja.
Sekretaris Desa Jangglengan Suhari menjelaskan, melon ditanam di greenhouse berukuran 15 x 30 meter atau 450 meter persegi.
Menariknya, masa tanam perdana ini sudah membuahkan hasil cukup memuaskan.
Baca Juga: Perempuan dan Anak Di Sukoharjo Rentan Jadi Korban Kekerasan, Januari-Mei 2026 Ada Temuan 81 Kasus
“Kami tanam 1.100 batang melon kuning atau sweet lavender. Umur tanamnya hanya 65 hari, sudah bisa panen,” ujar Suhari.
Suhari menambahkan, budi daya melon premium tidak hanya mendukung ketahanan pangan.
Program ini juga dikolaborasikan dengan sektor pariwisata, melalui konsep agrowisata petik buah. Pengunjung bisa memanen melon langsung dari pohonnya.
Baca Juga: Anggaran BBM Mobdin Bisa Bengkak Rp 2 Miliar, DPRD Sukoharjo Desak Kandangkan Di Akhir Pekan
Menurut Suhari, sebelum melon, Desa Wisata Jangglengan sudah mengembangkan agrowisata tanaman sayur-mayur di Lembah Bengawan Solo.
Kehadiran greenhouse melon premium ini menjadi pelengkap destinasi wisata berbasis pertanian.
“Jadi, kami kolaborasikan antara pertanian dengan wisata. Setelah panen, pengunjung bisa memilih dan memetik sendiri buah yang diinginkan,” bebernya.
Soal harga, melon kuning dibanderol antara Rp 20 ribu-Rp 25 ribu per kilogram (kg). Diprediksi prospek budi daya melon ini cukup menjanjikan.
“Dari awal kami sudah menghitung break even point (BEP), modal bangunan, dan modal tanam. Hasil kalkulasi menunjukkan usaha greenhouse melon premium ini sangat menjanjikan,” ujarnya.
Baca Juga: Tim Monev Sukoharjo Sidak Dua SPPG Di Gatak, IPAL dan Supplier Lokal Bermasalah
Sementara itu, budi daya melon kuning tak hanya terpusat di satu titik.
Di Desa Jangglengan terdapat beberapa titik greenhouse milik warga maupun kelompok lain yang juga membudi daya melon. Penjadwalan masa tanam diatur, agar waktu panen tidak bersamaan.
“Kami bekerja sama dengan warga yang memiliki greenhouse supaya masa panennya bergantian. Jadi, pasokan buah tetap ada dan pengunjung bisa datang setiap waktu,” jelasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto