RADARSOLO.COM – Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan menggelar aksi demo di Bundaran Kartasura, Rabu (17/6).
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan kepada pemerintah pusat maupun daerah, serta memberi ultimatum selama 7x24 jam agar aspirasi mereka mendapat tanggapan.
Salah satu peserta aksi Azhar Ardiansyah Al Aziz dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengatakan, demo diikuti 400-500 orang.
Peserta aksi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UIN Raden Mas Said, BEM dan DPM UMS, serta sejumlah organisasi yang tergabung dalam Cipayung Plus seperti PMII Sukoharjo, HMI Sukoharjo, dan IMM Sukoharjo.
"Kami sangat resah terhadap kebijakan pemerintah, yang menurut kami belum tepat sasaran. Apalagi berbagai demonstrasi yang dilakukan selama ini belum membuahkan hasil," ujar Azhar di sela aksi.
Baca Juga: Jamaah Haji Asal Sukoharjo Dipulangkan Bertahap, Dilarang Simpan Air Zamzam Di Koper Besar
Menurutnya, salah satu tuntutan utama yang disampaikan mahasiswa adalah evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program yang merupakan proyek strategis nasional tersebut harus benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat dan dijalankan secara transparan.
"Kami meminta evaluasi total MBG. Sebagai masyarakat dan mahasiswa, kami ingin program ini benar-benar memberikan manfaat. Jangan sampai justru menjadi celah terjadinya praktik korupsi," katanya.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Mereka menilai masih terdapat sejumlah koperasi yang belum beroperasi secara optimal akibat keterbatasan biaya.
Baca Juga: Residivis Spesialis Penipuan Outing Class Dibekuk, Catut Biro Perjalanan Wisata
"Kebijakan dari atas jangan sampai tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat di bawah. Kalau memang koperasi itu dibentuk, seharusnya mampu menyediakan kebutuhan masyarakat seperti pupuk dan kebutuhan lain, bukan sekadar formalitas," jelasnya.
Mahasiswa juga menyinggung dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dinilai memicu efek berantai terhadap kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.
"Kenaikan BBM menimbulkan domino effect terhadap harga kebutuhan lain. Karena itu, kami meminta adanya transparansi dan evaluasi kebijakan agar kesejahteraan masyarakat lebih diperhatikan," katanya.
Azhar menegaskan aksi yang dilakukan bukan merupakan kepentingan kelompok tertentu maupun ditunggangi pihak lain. Menurutnya, demonstrasi tersebut murni lahir dari keresahan bersama.
"Kami patungan dan menggalang solidaritas sendiri. Ini berangkat dari nurani dan keluh kesah masyarakat, bukan karena kepentingan golongan tertentu," tegasnya.
Ia mengatakan massa memberikan tenggat sepkan kepada pemerintah dan berharap DPRD Sukoharjo maupun bupati Sukoharjo dapat merespons tuntutan yang telah disampaikan secara tertulis.
"Kami berharap jangan hanya ditandatangani lalu selesai. Kalau belum ada perubahan, kami siap menggelar aksi jilid dua bahkan jilid tiga. Ini merupakan bentuk keresahan bersama dan kami akan terus mengawal tuntutan tersebut sampai mendapat respons yang nyata," tandasnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto