Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sulap Tepian Sungai Bengawan Solo Jadi Lahan Pertanian Terparu, BUMDes Maju Makmur Sukoharjo Panen Raya Jagung

Iwan Kawul • Jumat, 19 Juni 2026 | 09:53 WIB
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo Bagas Windaryatno didampingi Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Sukoharjo H. Nikolaus Roni petik jagung di lahan BUMDes Maju Makmur Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu, Kamis (18/6). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo Bagas Windaryatno didampingi Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Sukoharjo H. Nikolaus Roni petik jagung di lahan BUMDes Maju Makmur Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu, Kamis (18/6). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Maju Makmur Desa Ngasinan, Kecamatan Bulu, Sukoharjo terus mengembangkan unit usaha berbasis pertanian dan agrowisata.

Memanfaatkan lahan kas desa seluas 1,3 hektare di tepi aliran Bengawan Solo, BUMDes tersebut tak hanya menghasilkan jagung dan padi, tetapi juga menyiapkan kawasan edukasi pertanian hingga peternakan. Hal itu terlihat dalam panen perdana jagung yang digelar pada Kamis (18/6). 

Kepala Desa Ngasinan Purwadi mengatakan, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi agrowisata yang mampu mendukung perekonomian desa sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Menurutnya, anak-anak sekolah nantinya dapat belajar langsung mengenai dunia pertanian, mulai dari menanam padi hingga mengenal berbagai komoditas pertanian. Bahkan, ke depan kawasan tersebut akan dilengkapi dengan peternakan ayam, kambing, dan kelinci.

Baca Juga: Ruas Baki-Tanjunganom Dicor Beton, Berlakukan Buka-Tutup Arus Di Simpang Dlopo

“Ini memanfaatkan tanah kas desa seluas 1,3 hektare di pinggir Bengawan Solo. 

Selain jagung, ada padi. Ke depan kami ingin mengembangkan menjadi kawasan agrowisata dan edukasi pertanian untuk anak-anak sekolah. Juga akan ditambah peternakan ayam, kambing, dan kelinci,” ujar Purwadi.

Namun, pengembangan kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya akses jalan yang memerlukan pengerasan serta kebutuhan sarana pengairan berupa pompa diesel dan sumur dalam.

Baca Juga: Harga Gabah Di Sukoharjo Masih Di Atas HPP, Tembus Rp 7.800

Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sukoharjo yang turut hadir H. Nikolaus Roni Setiawan menegaskan pihaknya siap mengawal berbagai kebutuhan petani dan pengembangan BUMDes.

Menurutnya, sebagai organisasi yang menjadi perpanjangan aspirasi Presiden Prabowo Subianto, Tani Merdeka memiliki tugas menyerap berbagai persoalan di lapangan sekaligus mencarikan solusinya.

“Yang menjadi keluhan petani harus bisa kami serap dan harus ada solusinya. Solusi itu tentu memerlukan sinergi bersama. Untuk kebutuhan air seperti pompa dan sumur dalam, kami siap mendorong proposalnya sampai ke Kementerian Pertanian,” ungkapnya.

Roni menilai lahan yang saat ini baru seluas 1,3 hektare masih memiliki peluang untuk dikembangkan. Ia juga mendorong pengurus BUMDes membentuk kelompok ternak yang terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) sehingga dapat memperoleh dukungan program pemerintah maupun aspirasi dewan.

“Tani Merdeka siap mengawal terwujudnya swasembada pangan. Kalau nanti ada peternakan kambing, ayam, bahkan sapi, kami siap membantu mendorongnya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan BUMDes Maju Makmur.

Ia mengungkapkan, harga pembelian pemerintah (HPP) jagung saat ini sebesar Rp 5.500 per kilogram. Namun, jagung hasil panen di Ngasinan justru telah ditawar Rp 6.000 per kilogram.

“Jagung ini sudah ditawar Rp 6.000 per kilogram. Ini luar biasa untuk BUMDes,” katanya.

Baca Juga: Ratusan Mahasiswa Demo Di Bundaran Kartasura, Ancam Aksi Besar-Besaran Jika Aspirasi Tak Ditanggapi

Tak hanya itu, Bagas mengaku kagum dengan kreativitas pengurus BUMDes yang mampu memaksimalkan seluruh bagian tanaman jagung. Batang dan daun yang biasanya menjadi limbah ternyata telah dipesan pembeli dengan harga Rp 500 per kilogram.

“Jadi bukan hanya jagungnya yang menghasilkan uang, batang dan daunnya juga menghasilkan uang. Ini kreativitas dan inovasi yang harus terus dikembangkan,” ujarnya.

Menurut Bagas, langkah tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan pertanian modern tidak hanya berfokus pada hasil panen utama, tetapi juga pada nilai tambah dari seluruh bagian tanaman.

Ia memastikan pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan berbagai inovasi dan komoditas pertanian yang dilakukan BUMDes Maju Makmur.

“Selamat dan sukses untuk BUMDes Maju Makmur Desa Ngasinan. Terus kembangkan inovasi dan komoditas pertanian yang ada. Pemerintah daerah akan mendukung sepenuhnya,” tandasnya. (kwl)

Editor : fery ardi susanto
#Bumdes maju makmur #sukoharjo #sungai bengawan solo #jagung