SUKOHARJO – Kabar mengenai rencana penutupan aliran irigasi Dam Colo dipastikan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) tegaskan irigasi tetap tersedia.
Sedangkan kegiatan pemeliharaan jaringan irigasi akan dilakukan dengan pola lebih fleksibel, melalui koordinasi bersama para petani.
Pelaksana Harian Kepala BBWSBS Rizhali Triutomi Sahan menjelaskan, sejak 2024 tidak ada penutupan total aliran irigasi Dam Colo.
Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga kebutuhan air bagi sektor pertanian.
“Insya Allah tidak ada penutupan. Sebenarnya penutupan itu fungsinya untuk pemeliharaan saluran dan bangunan irigasi. Namun sejak 2024, memang sudah tidak ada penutupan,” tegas Rizhali, kemarin (24/6).
Meski demikian, Rizhali menilai pemeliharaan penting dilakukan agar kondisi bangunan dan jaringan irigasi Dam Colo tetap berfungsi optimal.
Maka BBWSBS berencana menyusun pola pemeliharaan bersama petani.
Baca Juga: MBG Libur Tak Ganggu Serapan Gabah Petani Di Sukoharjo
Selama ini penutupan saluran berlangsung hingga satu bulan. Ke depan, durasi tersebut akan diupayakan lebih singkat.
Sehingga petani tetap memperoleh pasokan air secara berkelanjutan.
“Kami berharap ada kolaborasi yang baik dengan petani. Nanti mungkin akan diatur terkait jadwal penutupan untuk pemeliharaan. Bangunan tetap harus terpelihara dengan baik, namun petani masih bisa mendapatkan air,” ujarnya.
Rizhali menegaskan pasokan air Dam Colo dari Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri ini masih aman hingga Oktober. Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan koordinasi dan perencanaan matang.
Baca Juga: Terdakwa Korupsi Percada Divonis 2 Tahun, JPU Ajukan Banding
“Ketersediaan air dari Gajah Mungkur insya Allah sampai Oktober masih mencukupi. Karena itu dibutuhkan kolaborasi yang bagus, agar petani bisa menyesuaikan musim tanamnya,” ujarnya.
Selain memenuhi kebutuhan irigasi pertanian, BBWSBS juga wajib menjaga berbagai fungsi lain dari Waduk Gajah Mungkur.
Di antaranya sebagai sumber air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta penyediaan air baku bagi masyarakat.
“Di Waduk Gajah Mungkur ada beberapa manfaat yang harus kami penuhi. Bukan hanya untuk pertanian, tetapi juga PLTA dan air baku. Semua itu harus tetap dijaga keseimbangannya,” papar Rizhali. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto