RADARSOLO.COM – Memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo mulai memantau kondisi sumber-sumber air di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Sejumlah sumur dan sumber mata air di kawasan selatan Sukoharjo, terutama Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru dilaporkan mulai mengalami penurunan debit, meski hingga kini belum ada yang mengering.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, penurunan debit air tersebut merupakan kondisi yang lazim terjadi setiap memasuki musim kemarau.
Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi saat ini masih relatif aman karena sumber-sumber air masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Sambangi Sukoharjo, Kapolda Jateng Bagi-Bagi 1.000 Sepatu Gratis Kepada Pelajar
"Sejumlah sumur dan sumber air di wilayah selatan seperti Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru memang sudah mulai berkurang debit airnya. Tetapi sampai saat ini belum ada yang habis atau mengering," ujar Ariyanto, Jumat (26/6).
Dia menjelaskan, BPBD terus melakukan pemantauan perkembangan kondisi di lapangan, terutama di daerah yang selama ini menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau.
Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, hingga relawan juga terus dilakukan agar potensi krisis air bersih dapat segera ditangani apabila terjadi.
Baca Juga: Gencarkan Edukasi Demokrasi, KPU Sukoharjo Gelar Pelatihan Dengan Sasaran Guru dan Pengurus OSIS SMP
Menurut Ariyanto, hingga akhir Juni ini BPBD belum menerima permohonan bantuan air bersih maupun permintaan dropping air dari masyarakat.
"Sampai hari ini belum ada warga ataupun pemerintah desa yang mengajukan permohonan dropping air bersih. Artinya kondisi ketersediaan air masih mencukupi kebutuhan masyarakat," katanya.
Menurut Ariyanto, berdasarkan prediksi BMKG yang disampaikan dalam paparan BPBD, awal musim kemarau tahun ini di Kabupaten Sukoharjo diperkirakan dimulai pada Mei lalu, dengan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus.
Durasi musim kemarau diprediksi berlangsung sekitar lima hingga tujuh bulan atau 16–21 dasarian.
BMKG juga memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan. (BMKG)
Ariyanto mengimbau masyarakat agar mulai melakukan penghematan penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air yang ada.
Masyarakat juga diminta segera melapor kepada pemerintah desa maupun BPBD apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
"Kami terus bersiaga. Jika nanti ada wilayah yang benar-benar mengalami kekurangan air bersih, BPBD siap melakukan dropping air sesuai kebutuhan masyarakat," tegasnya. (kwl/nik)
Editor : fery ardi susanto