RADARSOLO.COM – Pemerintah memastikan proses pembelajaran di Sekolah Rakyat Jawa Tengah 2 di Kabupaten Sukoharjo akan didukung kurikulum yang fleksibel.
Selain itu, tenaga pendidik diprioritaskan berasal dari daerah setempat.
Langkah tersebut dilakukan agar program Sekolah Rakyat mampu menjangkau lebih banyak anak dari keluarga kurang mampu, tanpa mengabaikan kualitas pendidikan.
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo saat meninjau Sekolah Rakyat Jawa Tengah 2 di Sukoharjo, Kamis (2/7) mengatakan, kurikulum yang diterapkan tetap mengacu pada Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen).
Baca Juga: Update Data, KPU Sukoharjo Tetapkan 703.017 Pemilih Berkelanjutan
Namun, sistem pembelajarannya dirancang lebih adaptif melalui mekanisme multi-entry dan multi-exit.
Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan peserta didik masuk ke Sekolah Rakyat meski tahun ajaran telah berjalan.
Dengan demikian, anak-anak yang baru memenuhi persyaratan atau baru mendapatkan izin dari orang tua tetap bisa bergabung tanpa harus menunggu tahun ajaran berikutnya.
Baca Juga: Wereng Batang Coklat Serbu Sukoharjo Selatan, 10 Hektare Tanaman Padi Terancam
"Untuk kurikulumnya tetap mengikuti dikdasmen, tetapi menggunakan sistem multi-entry dan multi-exit. jadi siswa yang masuk belakangan tetap bisa diterima dan mengikuti pembelajaran," ujar Agus Jabo.
Selain kurikulum yang fleksibel, pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap kualitas tenaga pengajar.
Agus menegaskan proses rekrutmen guru saat ini masih berlangsung dan diprioritaskan bagi tenaga pendidik asal Kabupaten Sukoharjo.
Dia memastikan pemerintah tidak akan mendatangkan guru dari luar daerah apabila kebutuhan dapat dipenuhi oleh sumber daya lokal.
Proses seleksi tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah.
"Saat ini seleksi sedang berjalan dengan memprioritaskan guru-guru lokal asal Sukoharjo. Rekrutmen ini dikoordinasikan bersama Pemkab Sukoharjo, Kemendikdasmen, Kementerian PAN-RB, hingga BKN," jelasnya.
Di sisi lain, Agus mengakui masih terdapat tantangan dalam pemenuhan kuota peserta didik, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar (SD).
Hingga saat ini, jumlah siswa SD baru mencapai 37 anak dari target 90 siswa dalam satu rombongan belajar.
Menurutnya, kendala utama bukan berasal dari kesiapan sarana prasarana, melainkan masih adanya keraguan orang tua untuk melepas anak mereka tinggal di asrama.
Baca Juga: Gara-Gara Korsleting Listrik, Rumah Kontrakan Di Mojolaban Sukoharjo Ludes Terbakar
"Untuk SD memang masih kurang, kita akan coba terus supaya memenuhi kuota. Karena orang tua kan masih susah melepas anaknya untuk boarding (berasrama)," katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah menerapkan pendekatan yang lebih humanis.
Orang tua diberikan keleluasaan menjenguk anak kapan pun apabila merasa rindu.
Bahkan, pemerintah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum menyediakan fasilitas guest house atau rumah singgah di lingkungan sekolah sehingga keluarga dapat menginap saat berkunjung.
Agus berharap berbagai kebijakan tersebut mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Sekolah Rakyat, sehingga kuota peserta didik, khususnya jenjang SD segera terpenuhi dan semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu memperoleh akses pendidikan yang layak. (kwl/nik)
Editor : fery ardi susanto