Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Tiga Kecamatan Di Sukoharjo Kekeringan, Dropping Air Bersih Di Lima Titik

Iwan Kawul • Jumat, 3 Juli 2026 | 18:08 WIB
BPBD Sukoharjo mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang dilanda kekeringan. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
BPBD Sukoharjo mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang dilanda kekeringan. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Pemkab Sukoharjo melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang mulai terdampak berkurangnya debit sumber air memasuki musim kemarau.

BPBD mendistribusikan lima tangki air bersih ke sejumlah desa di Kecamatan Tawangsari, Weru, dan Bulu pada Kamis (2/7),

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, pendistribusian air bersih tersebut merupakan langkah awal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah yang mulai mengalami penurunan debit sumber air.

Lima tangki air bersih disalurkan ke wilayah yang membutuhkan.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Sukoharjo Prioritaskan Guru Lokal

Rinciannya, satu tangki ke Dusun Jarum RT 2 RW 10 Desa Kedungjambal, satu tangki ke Dusun Jarum RT 2 RW 11 Desa Kedungjambal, dan satu tangki ke Dusun Brebes RT 2 RW 6 Desa Kedungjambal, Kecamatan Tawangsari.

Kemudian satu tangki ke Dusun Tunggul RT 4 RW 9 Desa Weru, Kecamatan Weru.

Selain itu, satu tangki disalurkan ke Dusun Kepuh Pencil RT 3 RW 4 Desa Kunden, Kecamatan Bulu.

Baca Juga: Update Data, KPU Sukoharjo Tetapkan 703.017 Pemilih Berkelanjutan

Menurutnya, wilayah selatan Kabupaten Sukoharjo memang mulai menunjukkan gejala penurunan debit air seiring berlangsungnya musim kemarau.

Meski demikian, kondisi sumber air hingga saat ini masih belum mengalami kekeringan total.

"Sumber air di wilayah selatan seperti Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru memang sudah mulai berkurang debit airnya," ujarnya.

Ariyanto menjelaskan, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan, terutama di wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau.

Koordinasi dengan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga para relawan juga terus dilakukan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila kondisi semakin memburuk.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau 2026 di Kabupaten Sukoharjo diperkirakan telah dimulai sejak Mei 2026.

Sementara puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan durasi kemarau berlangsung sekitar lima hingga tujuh bulan atau 16 hingga 21 dasarian.

Baca Juga: Siap Tampung 1.080 Siswa, Sekolah Rakyat Permanen Sukoharjo Mulai Beroperasi 14 Juli

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, terutama kawasan selatan Kabupaten Sukoharjo yang selama ini mengandalkan sumber mata air dan sumur warga.

Selain itu, ancaman kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat seiring menurunnya curah hujan.

Untuk itu, BPBD mengimbau masyarakat mulai melakukan penghematan penggunaan air serta menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia agar tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

"Masyarakat juga kami minta segera melapor kepada pemerintah desa maupun BPBD apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Kami terus bersiaga. Jika nanti ada wilayah yang benar-benar mengalami kekurangan air bersih, BPBD siap melakukan dropping air sesuai kebutuhan masyarakat," tegas Ariyanto. (kwl/nik)

Editor : fery ardi susanto
#kemarau #kekeringan #krisis air bersih #sukoharjo #dropping air bersih