RADARSOLO.COM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo terus mengintensifkan dropping air bersih bagi warga terdampak kekeringan.
Hingga Jumat (24/7), tiga desa di tiga kecamatan mengalami krisis air bersih.
Mulai dari Desa Kedungjambal, Kecamatan Tawangsari; Desa Kunden, Kecamatan Bulu; dan Desa Weru, Kecamatan Weru.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, hingga saat ini 1.179 jiwa atau 376 kepala keluarga (KK) krisis air bersih.
Baca Juga: Lagi Dan Lagi, Bakar Sampah Picu Karhutla di Bulu Sukoharjo
Solusi jangka pendek, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo terus menyalurkan bantuan air bersih setiap hari, sesuai kebutuhan masyarakat.
"Sampai hari ini ada tiga titik di Sukoharjo, masing-masing di Kecamatan Bulu, Tawangsari, dan Weru. Ribuan warga terdampak. Dari Pemkab Sukoharjo setiap hari dropping air bersih sesuai kebutuhan masyarakat," kata Ariyanto.
Data BPBD hingga 23 Juli 2026, total bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 390.000 liter atau setara 78 tangki.
Distribusi tersebar di Desa Kedungjambal sebanyak 38 tangki atau 190.000 liter, Desa Kunden 23 tangki atau 115.000 liter, dan Desa Weru 17 tangki atau 85.000 liter.
Ariyanto memperkirakan jumlah wilayah terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah.
Sebab musim kemarau baru saja melanda dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober mendatang.
"Saya yakin ke depan akan lebih banyak lagi, karena ini baru permulaan musim kemarau. Di 2023 lalu ada 20 desa yang terdampak kekeringan. Mudah-mudahan tahun ini tidak sebanyak itu, tetapi kami tetap bersiap mengantisipasi," ujarnya.
Menurut Ariyanto, sebagian besar wilayah terdampak sebenarnya masih memiliki sumber air saat musim penghujan.
Namun memasuki musim kemarau debit air turun drastis, bahkan di beberapa lokasi sumur warga sudah mulai mengering.
"Kalau musim hujan sebenarnya masih ada air. Persoalannya ketika kemarau debitnya berkurang sangat banyak, bahkan ada yang sudah kering. Itu yang menyebabkan masyarakat membutuhkan bantuan air bersih," jelasnya.
Selain penanganan darurat melalui dropping air bersih, BPBD bersama Pemerintah Kabupaten.
Baca Juga: Bekuk Pengedar Di Desa Pranan Sukoharjo, Amankan 2,72 Gram Sabu
Sukoharjo juga terus melakukan upaya jangka panjang untuk mengurangi dampak kekeringan. Salah satunya dengan pembangunan sumur dalam di sejumlah wilayah rawan.
"Tahun ini kami merencanakan pembangunan dua sampai tiga sumur dalam. Harapannya setiap tahun sedikit demi sedikit persoalan kekeringan bisa diselesaikan melalui pembangunan sumur dan pompa air," terangnya.
Tak hanya itu, BPBD juga mulai mendorong penguatan kawasan resapan air melalui penanaman vegetasi yang mampu meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, pembangunan biopori, hingga sumur resapan.
Edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan air hujan juga telah dilakukan, salah satunya di Desa Kamal, Kecamatan Bulu.
"Kami berharap masyarakat juga ikut menjaga ketersediaan air tanah melalui penguatan resapan, penanaman pohon, pembuatan biopori maupun sumur resapan. Edukasi pemanfaatan air hujan juga sudah kami lakukan agar masyarakat lebih siap menghadapi musim kemarau ke depan," pungkas Ariyanto. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo