Kemarau Bawa Berkah Bagi Petani Jambu Air Pranan Sukoharjo, Rasa Buah Jauh Lebih Manis

Iwan Kawul • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 15:39 WIB
Dua orang pengunjung menjajal sensasi memanjat sealigus memetik buah jambu air langsung dari pohonnya saat musim panen di Desa Pranan, Polokarto, Minggu (26/7). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Dua orang pengunjung menjajal sensasi memanjat sealigus memetik buah jambu air langsung dari pohonnya saat musim panen di Desa Pranan, Polokarto, Minggu (26/7). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Saat wilayah selatan Sukoharjo dilanda musibah kekeringan, lain cerita dengan Desa Pranan, Kecamatan Polokarto.

Lho kok bisa?

Ya, musim kemarau ini justru membawa berkah bagi petani jambu air.

Fenomena El Nino Godzilla yang identik dengan cuaca kering ekstrem, justru menguntungkan bagi para petani jambu Desa Pranan.

Baca Juga: Karhutla di Bendosari Sukoharjo Telan Korban Jiwa, Lansia Terjebak Api yang Dinyalakan Sendiri

Selain rasa buah yang dihasilkan lebih manis, kemarau juga memperpanjang masa panen hingga awal 2027.

Hamparan kebun jambu di desa sentra buah ini selalu dipadati pengunjung. Terutama yang ingin menikmati sensasi memetik jambu langsung dari pohonnya.

Sorenya, giliran truk pengangkut hasil panen yang hilir mudik mengangkut jambu menuju kota-kota besar di Indonesia. Sebut saja Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Semarang.

Petani jambu Desa Pranan Sugino mengaku, ada dua varietas unggulan yang dibudi daya. Yaknbi jambu citra dan wulung. Harga jual di tingkat pengepul Rp10 ribu per kilogram (kg).

Baca Juga: Ratusan Prajurit Yonif TP 449 Terjun Padamkan Karhutla di Tawangsari Sukoharjo

“Mulai panen Juli. Kemarau ini justru bagus untuk jambu. Buah lebih manis dan kualitasnya lebih baik. Kalau air hujan terlalu banyak, buah rasanya kurang manis,” ujar Sugino.

Kepala Desa (Kades) Pranan Sarjanto “Jigong” menambahkan, kemarau ekstrem tahun ini bak durian runtuh bagi petani jambu. Selama musim panen, produksi jambu Desa Pranan mencapai 20 ton per hari.

Menurutnya, warganya mayoritas menggantungkan penghasilan dari budi daya jambu. Dari sekira 1.200 kepala keluarga (KK), hampir semuanya memiliki minimal tiga pohon jambu di pekarangan rumah.

Aktivitas ekonomi masyarakat pun tak berhenti setelah panen jambu usai. Desa ini juga memiliki komoditas mangga yang segera memasuki masa panen.

Alhamdulillah, kemarau datang lebih awal dan diperkirakan berlangsung lebih lama. Sehingga masa panen jambu menjadi lebih panjang dan produksinya melimpah,” jelas Sarjanto.

Sementara itu, Camat Polokarto Heri Wahyu Cahyono menyebut budi daya jambu menjadi penopang utama perekonomian Desa Pranan. Di samping sektor pertanian padi dan mangga.

“Budi daya jambu ini menjadi berkah tersendiri bagi warga Desa Pranan. Karena jambu ini mampu meningkatkan pendapatan warga,” bebernya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
jambu air pranan pranan sukoharjo kemarau