Menara Eiffel Bambu 22 Meter Berdiri Megah Di Nguter Sukoharjo

Iwan Kawul • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Warga Serut, Kecamatan Nguter, Sukoharjo patungan membuat replika Menara Eiffel dari bahan bambu setinggi 22 meter. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Warga Serut, Kecamatan Nguter, Sukoharjo patungan membuat replika Menara Eiffel dari bahan bambu setinggi 22 meter. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Siapa sangka puluhan batang bambu bisa menjelma menjadi Menara Eiffel setinggi 22 meter?

Itulah kreasi pemuda Desa Serut, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, yang sukses menghadirkan miniatur ikon Paris di tengah kampung menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menara Eiffel versi Desa Serut itu berdiri di Jalan Utama Desa Serut, tepatnya RT 02/RW 02.

Uniknya, karya raksasa tersebut dibangun dengan bahan utama bambu hasil swadaya warga. Tak ada anggaran besar, hanya modal gotong royong dan kreativitas pemuda.

Baca Juga: Razia Balap Liar Di Sukoharjo, Panen Kenalpot Brong Dan Puluhan Botol Ciu

Proses pembangunannya berlangsung sekitar satu bulan, sejak awal Juli hingga rampung dan didirikan pada Minggu (9/8).

Ketua Karang Taruna Bina Kaya Desa Serut Supardi alias Jambul, mengatakan ide membuat miniatur Menara Eiffel muncul dari para pemuda. 

Mereka ingin menghadirkan karya yang berbeda dari kreasi tahun-tahun sebelumnya.

“Dulunya pernah juga buat Monas. Cuma ini teman-teman Karang Taruna Bina Kaya Desa Serut minta Menara Eiffel,” kata Supardi saat dikonfirmasi, Selasa (11/8).

Pengerjaan dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan waktu luang.

Mayoritas pemuda Desa Serut bekerja sebagai petani maupun pekerja serabutan.

Karena itu, pengerjaan lebih banyak dilakukan pada malam hari.

“Kalau siang biasanya petani, ada juga yang serabutan bangunan. Jadi kita buatnya malam. Kalau pagi cuma hari Minggu,” ujarnya.

Bambu yang menjadi bahan utama juga diperoleh dari warga.

Para pemuda meminta bantuan warga yang memiliki bambu untuk menyumbangkan sebagian materialnya.

Dari sana terkumpul puluhan batang bambu berbagai ukuran.

Baca Juga: Budi Daya Lele Di Mulur Sukoharjo Sukses, Sekali Panen 1 Ton

Untuk struktur utama, sekitar 60 hingga 70 batang bambu berukuran besar digunakan.

Sementara sekitar 40 batang bambu berukuran lebih kecil dipakai untuk membentuk rangka dan bagian atas menara.

“Bambu minta ke warga-warga yang punya bambu. Ada yang kasih 10, ada yang 15 batang,” ungkap Supardi.

Dengan bahan sederhana itu, para pemuda berhasil membangun menara setinggi sekitar 22 meter. Bagian dasarnya berukuran sekitar 8 x 8 meter.

Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika menara tersebut harus didirikan.

Struktur raksasa itu tidak bisa langsung diangkat sekaligus. Proses pendirian dilakukan secara bertahap hingga tiga kali.

Posisi kabel listrik di sekitar lokasi juga menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan agar proses pendirian berlangsung aman.

“Kalau mengerjakan tidak susah. Yang susah itu menaikkan. Karena tiga tahap,” katanya.

Setelah berjibaku selama sekitar sebulan, miniatur Menara Eiffel akhirnya rampung 100 persen pada Minggu (9/8).

Karya tersebut sekaligus menghidupkan kembali tradisi kreativitas warga Desa Serut dalam menyambut bulan kemerdekaan.

Sebelumnya, warga pernah membuat berbagai miniatur dan instalasi unik, mulai dari pesawat tempur, Spiderman duduk di bulan, Tugu Pancoran, hingga Monas. 

Baca Juga: ASN Di Sukoharjo Patungan Dropping 126 Tangki Air Bersih Ke Wilayah Terdampak Kekeringan

Namun, tradisi tersebut sempat terhenti sekitar empat tahun.

“Dulu itu agenda tahunan. Cuma sekitar empat tahun kemarin tidak membuat. Kemudian teman-teman meminta dibuatkan menara ini,” jelas Supardi.

Kini, Menara Eiffel bambu itu bukan sekadar ornamen perayaan kemerdekaan. Keberadaannya mulai menarik perhatian warga yang melintas.

Terlebih saat malam hari ketika menara dihiasi lampu warna-warni.

Anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo Sutoyo mengapresiasi kreativitas pemuda dan gotong royong warga Desa Serut.

Menurutnya, karya tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang menarik.

“Antusias gotong royong warga khususnya para pemuda dalam memeriahkan hari kemerdekaan dengan membangun miniatur Menara Eiffel patut dibanggakan,” kata Sutoyo.

Ia bahkan melihat potensi karya tersebut menjadi destinasi wisata dadakan.

Baca Juga: Gelorakan Semangat Nasionalisme dengan Sentuhan Budaya, Warga Jetis Sukoharjo Pasang Bendera Sepanjang 1 Km

Apalagi tampilan menara pada malam hari dinilai cukup menarik untuk menjadi latar swafoto dan konten media sosial.

“Kalau malam sangat indah, dipenuhi lampu warna-warni, sangat cocok untuk foto-foto dan di-upload di media sosial,” ujarnya.

Dengan demikian, Menara Eiffel bambu Desa Serut tak hanya menjadi simbol semarak kemerdekaan.

Di balik konstruksi sederhananya, terselip cerita tentang gotong royong, kreativitas pemuda dan cara warga menghadirkan kemeriahan dengan modal yang ada di sekitar mereka. (kwl/bun) 

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
menara eiffel nguter bambu HUT kemerdekaan RI sukoharjo