Kolaborasi Lintas Instansi Perkuat Penanganan Krisis Air Bersih Di Sukoharjo Selatan

Iwan Kawul • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:08 WIB
Dropping air bersih di Desa Kedung Jambal, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Sabtu (15/8). (Dok)
Dropping air bersih di Desa Kedung Jambal, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo, Sabtu (15/8). (Dok. Puskesmas Sukoharjo)

RADARSOLO.COM – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sukoharjo wilayah selatan, mendorong berbagai instansi untuk bergerak bersama.

Tidak hanya mengandalkan satu lembaga, penanganan kekeringan kini dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari Puskesmas, Palang Merah Indonesia (PMI), TNI, pemerintah desa hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kolaborasi tersebut terlihat saat Puskesmas Sukoharjo bersama PMI Sukoharjo dan personel Yonif TP 449/Satrio Honggopati menyalurkan bantuan air bersih ke Desa Kedung Jambal, Kecamatan Tawangsari, Sabtu (15/8).

Sebanyak tiga tangki air bersih dikirim untuk membantu memenuhi kebutuhan warga yang terdampak kekeringan.

Baca Juga: Paskibraka Sukoharjo Cermin Kebhinekaan, Berasal Dari Beragam Latar Belakang

Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses air bersih di tengah musim kemarau yang semakin panjang.

Koordinator kegiatan sekaligus Kepala Puskesmas Sukoharjo, dr. Kunari Mahanani mengatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan kembali mengirimkan bantuan apabila kondisi kekeringan terus meluas.

“Melihat krisis air bersih yang terus meluas, kami akan berupaya untuk mengirim air bersih lagi. Untuk sasaran lokasi kami akan berkoordinasi dengan BPBD Sukoharjo,” ungkapnya.

Menurut Kunari, koordinasi antarinstansi menjadi penting agar bantuan yang diberikan benar-benar menyasar wilayah yang membutuhkan.

Dengan demikian, penanganan kekeringan tidak berjalan sendiri-sendiri dan distribusi bantuan bisa dilakukan secara lebih efektif.

Kondisi serupa telah dirasakan warga Desa Kedung Jambal selama bertahun-tahun.

Kepala Desa (Kades) Kedung Jambal Suminto mengatakan, krisis air bersih hampir selalu terjadi setiap kali musim kemarau panjang tiba.

“Kondisi ini sudah terjadi lebih dari empat tahun. Di desa ini ada sekitar delapan RT dan ratusan KK yang terdampak,” katanya.

Bagi warga, bantuan air bersih menjadi sangat berarti karena sumber air yang selama ini digunakan semakin sulit diandalkan.

Bahkan, upaya warga untuk mencari sumber air baru dengan memperdalam sumur belum membuahkan hasil.

Baca Juga: Buruh Kupas Bawang di Sukoharjo Dibayar Rp 1.000-Rp 2.000 Per Kg

Salah seorang warga, Suratno, mengatakan dirinya bersama warga lainnya kini sangat mengandalkan bantuan air bersih.

Ia mengaku sudah berusaha menggali kembali sumur miliknya, namun hingga kedalaman lebih dari 80 meter air belum juga ditemukan.

“Kalau tidak ada bantuan air bersih, ya kami beli. Satu jeriken harganya Rp3.500,” ujarnya.

Sementara itu, BPBD Sukoharjo mencatat krisis air bersih terus meluas.

Hingga saat ini, kekeringan telah berdampak pada tiga kecamatan yang mencakup 10 desa.

Secara keseluruhan, sebanyak 849 kepala keluarga atau 2.724 jiwa terdampak krisis air bersih.

Untuk membantu masyarakat, berbagai pihak dari unsur pemerintah, TNI, PMI hingga swasta terus bergandengan tangan menyalurkan bantuan.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, hingga saat ini total bantuan yang telah didistribusikan mencapai sekitar 946 ribu liter air bersih.

“Berbagai pihak dari sektor pemerintah maupun swasta terus menyalurkan bantuan darurat. Sampai saat ini sudah 946 ribu liter air bersih yang didistribusikan ke lokasi-lokasi terdampak,” jelasnya.

Bantuan terbaru datang dari berbagai unsur, di antaranya PMI, Puskesmas Sukoharjo dan personel Yonif TP 449/Satrio Honggopati.

Baca Juga: Jumat Berkah, Salurkan Bantuan Air Bersih Ke Wilayah Kekeringan Di Sukoharjo Selatan

Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kekuatan penting dalam mempercepat penanganan krisis air bersih di tengah semakin luasnya wilayah terdampak.

Namun, besarnya kebutuhan membuat distribusi bantuan perlu diatur secara terkoordinasi.

BPBD Sukoharjo pun mengimbau para donatur maupun lembaga swasta yang hendak menyalurkan bantuan agar berkoordinasi terlebih dahulu.

Langkah tersebut dilakukan agar bantuan tidak menumpuk di satu lokasi, sementara wilayah lain yang juga mengalami kekeringan justru belum mendapatkan pasokan air.

“Kami mengimbau para donatur untuk berkoordinasi dengan BPBD agar bantuan air bersih ini bisa terbagi merata dan tepat sasaran kepada warga yang membutuhkan,” imbau Ariyanto. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
sukoharjo selatan kekeringan krisis air bersih musim kemarau dropping air bersih