RADARSOLO.COM - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menggandeng Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo untuk mendorong lahirnya eksportir muda. Kampus didorong tidak hanya mencetak lulusan pencari kerja, tetapi juga membangun mahasiswa menjadi entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus membawa produk lokal ke pasar global.
Dorongan tersebut disampaikan Budi saat memberikan kuliah umum di Auditorium Univet Bantara, Kamis (20/8). Dalam kesempatan itu, Budi menawarkan program Kampus Preneur kepada Univet Bantara. Program tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat ekosistem kewirausahaan di perguruan tinggi.
“Kita ajari ekspor, tetapi harus punya produk dan mampu konsisten dalam produksinya,” kata Budi.
Budi menjelaskan, perguruan tinggi memiliki potensi besar karena banyak kampus mempunyai UMKM binaan serta produk hasil inovasi mahasiswa dan dosen. Produk tersebut dapat dikembangkan melalui pendampingan hingga memiliki akses pasar nasional maupun internasional.
Univet Bantara pun mendapat kesempatan mengikuti program Kampus Preneur.
Kampus dijadwalkan mengikuti pameran Kampus Preneur pada 14 Oktober mendatang. Sejumlah produk binaan Univet, termasuk produk UMKM dan karya mahasiswa, akan dipersiapkan untuk ditampilkan dalam kegiatan tersebut.
Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum. mengatakan, kesempatan tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk-produk unggulan kampus ke pasar yang lebih luas.
“Insya Allah tanggal 14 Oktober nanti kami diberi kesempatan untuk mengikuti pameran Kampus Preneur. Salah satunya produk hasil penelitian Fakultas Pertanian yang dikembangkan mahasiswa BEM Berdampak berupa produk pangan untuk membantu mempercepat penggemukan sapi dan kambing,” ujar Prof. Farida.
Selain pameran, Univet Bantara juga mengusulkan agar dosen dan peneliti diberi ruang untuk terlibat dalam penelitian kebijakan perdagangan. Kemendag sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswa Univet Bantara mengikuti program magang di kementerian.
Menurut Prof. Farida, kesempatan tersebut penting untuk memperkuat pengalaman mahasiswa di bidang kewirausahaan dan perdagangan internasional. Kampus ingin lulusan Univet tidak berhenti pada status sebagai pencari kerja.
“Kami berharap dengan adanya kuliah umum ini bisa menggali jiwa entrepreneur mahasiswa kami. Ketika lulus mereka siap menciptakan lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Budi memperkenalkan program dari lokal untuk global yang mendorong UMKM menembus pasar internasional. Ia menyebut masih banyak UMKM yang belum memiliki pengalaman ekspor.
Dari sekira USD 134 juta nilai yang terkait dengan program tersebut, sekira 70 persen pelaku UMKM disebut belum pernah melakukan ekspor. Sementara sepanjang Januari-Juli, nilai transaksi tercatat sekira USD 333,68 juta.
Budi mengakui pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah kendala untuk masuk pasar global, salah satunya bahasa. Karena itu, pendampingan diperlukan agar pelaku usaha mampu memenuhi kebutuhan pasar dan menjalankan perdagangan lintas negara secara berkelanjutan.
“Tidak harus jadi eksportir. Kita ada namanya kemitraan untuk produk lokal dengan pasar nasional,” ungkapnya.
Budi juga menekankan pentingnya menghubungkan inovasi yang dihasilkan lembaga pendidikan dengan dunia industri. Dia mencontohkan siswa SMK Veteran yang sudah mampu menghasilkan motor listrik.
"Inovasi semacam itu harus dilanjutkan dengan mencari industri yang mampu memproduksi sekaligus membuka akses pasar," pungkas Budi.
Farida berharap, kolaborasi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat peran kampus sebagai pencetak entrepreneur sekaligus membuka jalan bagi produk binaan kampus menembus pasar yang lebih luas. (alf/nik)