Sedimentasi Sumbat Irigasi Tiga Desa Di Mojolaban Sukoharjo, Cukup Terjunkan Petani

Iwan Kawul • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:21 WIB
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo tinjau irigasi TOR 14 Dam Colo di Mojolaban, belum lama ini. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo tinjau irigasi TOR 14 Dam Colo di Mojolaban, belum lama ini. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Saluran irigasi yang memadai jadi faktor penting dalam meningkatkan produksi pertanian di Sukoharjo.

Inilah yang menggerakkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo untuk merehab saluran irigasi.

Paling gres, rehab menyasar irigasi TOR 14 Dam Colo di Kecamatan Mojolaban, belum lama ini.

Sebagai catatan, TOR 14 mengalami sedimentasi yang lumayan parah. Sebelumnya, saluran tersebut hanya mampu mengaliri lahan pertanian di dua desa.

Setelah dilakukan konsolidasi antara pemkab, petani, dan pengelola jaringan irigasi, sedimentasi di tersebut dibersihkan.

Hasilnya, irigasi kini mampu menjangkau lima desa. Pelaksana tugas (Plt) Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menjelaskan, sedimentasi dapat diselesaikan melalui langkah sederhana dan kolaborasi berbagai pihak.

Baca Juga: Dua Hari Tak Keluar Kamar, Pria Paro Baya Asal Jakarta Meninggal Di Kosan Di Nguter Sukoharjo

“Persoalannya ternyata hanya sedimentasi. Setelah dilakukan konsolidasi dan petani semua terjun, akhirnya bisa mengalir ke lima desa,” jelas Sapto.

Sapto menambahkan, model gotong royong ini bisa diterapkan di jaringan irigasi lainnya.

Ke depan, pemkab akan mengecek saluran irigasi untuk menemukan titik-titik yang masih mengalami persoalan serupa.

“Kadang kita berpikir terlalu tinggi. Ternyata persoalannya bisa selesai dengan hal-hal sederhana. Barangkali nanti akan dicek TOR-TOR yang lain, sehingga areal luas tanam bisa bertambah,” imbuhnya.

Sapto menegaskan, penguatan jaringan irigasi penting untuk mendongkrak produksi pertanian, sekaligus menjaga ketahanan pangan.

Maka rehab irigasi tidak bisa dibebankan kepada satu instansi, namun butuh kerja bersama semua pihak terkait.

Ambil contoh rehab TOR 14 yang melibatkan dinas pertanian dan perikanan (distankan), dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (DPU PR), Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), serta kelompok petani pengguna air (GP3A).

Kepala Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno menjelaskan, masih memetakan jaringan irigasi yang butuh perbaikan.

Baca Juga: Sumur Dalam, Harapan Baru Warga Sukoharjo Di Wilayah Terdampak Kekeringan  

Inventarisasi dibutuhkan untuk memilah rehab yang cukup ditangani petani, serta kerusakan yang butuh intervensi pemerintah.

“Kalau kendalanya sedimentasi dan penyempitan. Ini bisa diatasi dengan susruk saluran. Kami dorong petani untuk menyelesaikan ini,” beber Bagas.

Terkait kerusakan jaringan irigasi primer maupun sekunder, penanganannya akan dikoordinasikan dengan BBWSBS.

“Seluruh perangkat daerah, baik kementerian maupun pemerintah daerah, punya tanggung jawab yang sama. Siapa yang siap anggaran dan siapa yang bisa mengeksekusi, ya dieksekusi,” ujarnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
irigasi Dam Colo mojolaban sedimentasi sukoharjo