RADARSOLO.COM – Kreativitas petani di Desa/Kecamatan Polokarto patut menjadi contoh dalam menghadapi musim kemarau.
Air limbah kolam ikan difungsikan untuk menyuplai pengairan kebun alpukat.
Kepala Desa (Kades) Polokarto Suharno menjelaskan, air yang digunakan bukan sembarang limbah.
Air tersebut dari 57 kolam ikan dengan sistem bioflok, yang terintegrasi dengan kebun alpukat. Setiap kolam memiliki diameter 3 meter.
Sistem tersebut membuat budi daya ikan dan tanaman berjalan beriringan. Air bekas kolam yang mengandung sisa nutrisi, dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
Terutama ketika sumber air mulai terbatas akibat musim kemarau.
Baca Juga: Lima Titik Lahan Di Sukoharjo Diamuk Si Jago Merah, Pemadaman Libatkan Tim Gabungan
“Ini bukan sembarang limbah. Limbahnya berasal dari kolam ikan bioflok. Ada 57 kolam, masing-masing diameter 3 meter, yang kami integrasikan dengan kebun alpukat,” jelas Suharno.
Suharno menambahkan, pemanfaatan kolam ikan menjadi solusi untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan pasokan air saat kemarau.
Selain mengurangi pemborosan air, pola tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Kalau musim kemarau, air dari limbah kolam ini kami manfaatkan untuk mengairi kebun alpukat,” bebernya.
Konsep tersebut sekaligus menunjukkan, bahwa limbah dari kegiatan perikanan masih dapat dimanfaatkan kembali apabila dikelola dengan tepat.
Integrasi antara kolam ikan dan kebun alpukat diharapkan menekan kebutuhan air, sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani.
“Pemanfaatan air kolam juga menjadi gambaran, bahwa sektor pertanian dan perikanan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Dengan pengelolaan terpadu, sisa dari satu kegiatan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan lainnya,” ujarnya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo