RADARSOLO.COM - Di balik hamparan sawah yang mengelilingi Kampung Klurahan, Kecamatan Sukoharjo Kota, tersimpan cerita turun-temurun yang hingga kini masih dipercaya masyarakat.
Ada tradisi unik memelihara kerbau atau kebo.
Mitos kerbau yang dipelihara warga Kampung Klurahan, bukan isapan jempol belaka.
Di sana, kerbau seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga.
Kisah kerbau di Klurahan, menurut Pegiat Budaya dari Forum Aliansi Aktivis Sukoharjo Heru Susilo, tak lepas dari mitos ternak sapi.
Zaman dulu, berkembang kepercayaan warga Kampung Klurahan tidak cocok memelihara sapi.
Baca Juga: Lokasi Judi Kasino Di Sukoharjo Pernah Diadukan Ke DPRD, Kini Tak Ada Aktivitas
Konon, sapi yang dipelihara di kampung tersebut akan sakit-sakitan, bahkan mati.
Pemiliknya pun dipercaya bakal menghadapi berbagai kesialan atau cobaan hidup.
Kepercayaan tersebut membuat sapi seolah jadi ternak yang dihindari untuk dipelihara di Kampung Klurahan.
Sebaliknya, kerbau dianggap sebagai hewan yang sejak dulu bersahabat dengan kehidupan masyarakat.
Dulu, hampir setiap rumah di Kampung Klurahan memiliki kerbau.
Hewan tersebut bukan hanya dipelihara untuk menghasilkan cuan, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas pertanian.
Sebelum teknologi pertanian berkembang seperti sekarang, kerbau menjadi tenaga utama untuk membajak sawah.
Suara langkah kerbau dan aktivitas petani mengolah tanah, menjadi pemandangan yang akrab bagi warga Klurahan.
“Kepercayaan itu bagian dari cerita masyarakat. Kita tidak perlu memperdebatkan mistisnya. Yang penting nilai sejarah dan budayanya jangan sampai hilang,” tegasnya.
Sayangnya, tradisi tersebut terancam tinggal cerita.
Kerbau terakhir yang masih dipelihara warga Klurahan, sudah dijual 2024 lalu. Sejak itu, tak ada lagi warga yang memelihara kerbau.
Baca Juga: Coffe Shop Menjamur, Gagas Pelatihan Barista Di Sukoharjo
Heru sangat menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, hilangnya kerbau dari Klurahan berpotensi memutus mata rantai sejarah dan budaya.
“Kerbau itu bukan sekadar hewan ternak. Di Klurahan ada sejarah panjang warga dengan kerbau. Dulu kerbau menjadi bagian dari kehidupan petani, termasuk untuk membajak sawah,” ujar Heru.
Heru mendorong warga untuk kembali memelihara kerbau.
Menurutnya, upaya tersebut penting, agar nilai-nilai sejarah dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun tidak hilang ditelan zaman.
Terlebih, beberapa waktu lalu telah dibangun monumen kerbau sekaligus landmark di sana.
Lokasinya dulu yang dipercaya sebagai tempat guyangan atau mandi kerbau.
“Sekarang sudah ada monumen, jangan sampai kerbaunya hilang. Monumen itu seharusnya menjadi pengingat, pernah ada budaya kerbau di sini,” beber Heru. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo