RADARSOLO.COM – Upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana di Kabupaten Sukoharjo masih menghadapi peer (pekerjaan rumah) berat.
Dari total 167 desa dan kelurahan, baru 77 yang telah terbentuk Desa Tangguh Bencana (Destana).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mendorong agar semua desa bisa membentuk Destana.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, pembentukan Destana sangat penting dalam mengasah mitigasi masyarakat di tingkat paling bawah.
Sebab, desa merupakan garda terdepan yang pertama kali berhadapan dengan ancaman bencana.
Baca Juga: Gerebek Kasino Di Sukoharjo, Sita Dua Mesin Tembak Ikan
“Destana bukan sekadar organisasi, tetapi bagaimana mengasah kemampuan masyarakat agar mengenali ancaman, mengurangi risiko, menyiapkan diri, merespons, hingga pulih setelah terjadi bencana,” kata Ariyanto, Selasa (2/9).
Ariyanto menambahkan, Destana merupakan program dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Desa atau kelurahan dibentuk sedemikian rupa agar tangguh menghadapi ancaman bencana.
Kemandirian dan gotong royong masyarakat menjadi kekuatan utama dalam mengurangi risiko.
Dalam pengembangannya, Destana mencakup lima kegiatan utama.
Mulai dari penilaian risiko, penyusunan rencana penanggulangan bencana, penguatan kapasitas masyarakat, pelaksanaan mitigasi, serta membangun kemandirian dalam penanggulangan bencana.
Penilaian risiko dilakukan untuk mengidentifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko bencana di desa.
Selanjutnya, disusun rencana aksi penanggulangan bencana yang menjadi pedoman masyarakat ketika menghadapi situasi darurat.
Penguatan kapasitas juga dilakukan melalui pelatihan, pembentukan tim relawan, hingga edukasi kebencanaan.
Sedangkan mitigasi diarahkan pada berbagai aksi untuk mengurangi dampak bencana.
Baca Juga: Bongkar Modus Kasino Di Sukoharjo: Pejudi Parkir Jauh Dijemput Ojol, Masuk Pakai Kode Khusus
Ariyanto menilai, Destana memiliki manfaat besar karena masyarakat tidak hanya menunggu bantuan ketika bencana terjadi.
Masyarakat didorong lebih siap siaga, sehingga risiko korban jiwa, kerusakan harta benda, maupun kerusakan lingkungan dapat ditekan.
“Ketangguhan desa menjadi kunci ketangguhan daerah. Semakin siap masyarakat di tingkat desa, semakin cepat pula penanganan ketika bencana terjadi,” ujarnya.
Pembentukan Destana membutuhkan sejumlah komponen pendukung.
Mulai dari kelembagaan kuat dan inklusif, sumber daya manusia (SDM) tangguh, sarana prasarana, hingga pendanaan.
Termasuk kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan lainnya.
“Secara nasional, program Destana terus berkembang. Data BNPB, hingga April 2024 telah terbentuk 2.148 Destana di 34 provinsi. Ini melibatkan lebih dari 1 juta jiwa.
Di Sukoharjo, masih terdapat 90 desa atau kelurahan yang belum terbentuk Destana.
Kondisi tersebut menjadi tantangan, sekaligus peluang untuk memperluas kesiapsiagaan berbasis masyarakat.
“Terlebih setiap wilayah memiliki potensi dan karakteristik ancaman bencana yang berbeda. Dengan hadirnya Destana, penanganan bencana diharapkan tidak hanya bertumpu pada pemerintah dan petugas kebencanaan. Masyarakat juga diharapkan ikut berperan aktif di dalamnya,” beber Ariyanto. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo