RADARSOLO.COM – Iklim investasi di Kabupaten Sukoharjo menunjukkan tren positif sepanjang semester I 2026.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sukoharjo, realisasi tambahan investasi hingga triwulan II 2026 mencapai ratusan miliar rupiah.
Baik dari sektor penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).
Kepala DPMPTSP Sukoharjo Djoko “Ipoeng” Poernomo menjelaskan, akumulasi tambahan investasi berasal dari lima sektor terbesar.
PMA menyumbang Rp 145.085.478.807, kemudian PMDN Rp 381.421.062.103.
Baca Juga: Habitat Terbakar, Monyet Ekor Panjang Turun Ke Permukiman Di Bulu Sukoharjo
“Realisasi investasi di Kabupaten Sukoharjo terus bergerak positif. Dari sisi PMA, sektor industri barang dari kulit dan alas kaki menjadi penyumbang terbesar. Kemudian untuk PMDN didominasi sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran,” jelas Ipoeng, Kamis (10/9).
Di triwulan I 2026, total tambahan investasi PMA dari lima sektor utama tercatat Rp 81.429.170.203.
Sektor industri barang dari kulit dan alas kaki memimpin Rp 66,06 miliar.
Disusul industri lainnya Rp 4,80 miliar dan jasa lainnya Rp 4,64 miliar.
Berikutnya transportasi, gudang, dan telekomunikasi menyumbang Rp 3,32 miliar. Sedangkan industri tekstil Rp 2,58 miliar.
Tambahan invstasi PMDN di periode yang sama tercatat Rp 91.182.247.144.
Didominasi industri karet dan plastik Rp 30,82 miliar dan industri tekstil Rp 26,24 miliar. Sedangkan perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyumbang Rp 22,65 miliar.
Memasuki triwulan II 2026, investasi PMDN melonjak jadi Rp 294.898.928.598.
Baca Juga: Investasi Semester II 2026 Di Sukoharjo Lambat, Jauh Di Bawah 2025
Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran jadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 124,47 miliar. Disusul perdagangan dan reparasi Rp 85,97 miliar, serta jasa lainnya Rp 44,32 miliar.
Kemudian untuk PMA di periode yang sama mencatat tambahan investasi Rp 70.001.905.687.
Industri barang dari kulit dan alas kaki masih mendominasi Rp 24,87 miliar. Diikuti perdagangan dan reparasi Rp 20,24 miliar.
“Kami optimistis daya tarik investasi daerah akan terus terjaga, seiring kemudahan layanan perizinan dan kondusivitas iklim usaha yang terus ditingkatkan,” beber Ipoeng. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo