Karhutla Sukoharjo Amuk 433,05 Hektare, Paling Banyak Di Kecamatan Bulu

Iwan Kawul • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 18:47 WIB
Tim gabungan berupaya menjinakkan kebakaran lahan di Namengan RT 2 RW 8, Desa Krajan, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Minggu (13/9). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Tim gabungan berupaya menjinakkan kebakaran lahan di Namengan RT 2 RW 8, Desa Krajan, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Minggu (13/9). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sukoharjo terus meluas sepanjang musim kemarau.

Hingga Jumat (11/9), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukoharjo mencatat 87 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar mencapai 433,05 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengatakan, kejadian karhutla tersebar di sejumlah wilayah.

Didominasi kebakaran hutan rakyat, lahan kosong, hingga lahan tebu.

Baca Juga: KPU Sukoharjo Tegaskan Ogah Cawe-Cawe Pilkades Serentak 2026, Tapi Buka Pintu Sharing

”Data yang kami catat sampai 11 September ada 87 kejadian dengan luas lahan terbakar 433,05 hektare,” kata Ariyanto, Minggu (13/9).

Dari data BPBD, Kecamatan Bulu menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar paling besar.

Sejumlah kejadian di wilayah tersebut bahkan mencapai puluhan hektare dalam sekali kebakaran.

Kebakaran dengan luasan cukup besar antara lain terjadi di Desa Gentan, Kecamatan Bulu, dengan luas sekitar 35 hektare pada Kamis (3/9).

Sebelumnya, kebakaran di Desa Karangasem mencapai 35 hektare, sedangkan di Desa Sanggung mencapai 25 hektare.

Kebakaran juga terjadi di Desa Tiyaran dengan luasan sekitar 30 hektare pada 24 Juli, Desa Sanggung 25 hektare pada 28 Agustus, serta sejumlah titik lain di wilayah Bulu.

Selain Bulu, Kecamatan Nguter juga mencatat kejadian cukup besar. Salah satunya kebakaran lahan kosong di Desa Plesan pada 27 Juli dengan luasan mencapai 40 hektare.

Ariyanto menegaskan, kondisi kemarau yang membuat vegetasi dan lahan mengering meningkatkan potensi kebakaran.

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, terutama di sekitar lahan kering dan kawasan hutan.

”Kalau kondisi lahan kering, api kecil saja bisa cepat membesar. Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.

Baca Juga: 4 Orang Bertopeng Teror Warung Mie & Babi, Ancam Karyawan dan Bakar Sepeda Motor

Dalam catatan BPBD, jenis lahan yang terbakar cukup beragam. Mulai dari hutan rakyat, lahan kosong, kebun tebu, lahan pekarangan, hingga kawasan TPA.

Bahkan terdapat kejadian kebakaran lahan tebu di Desa Plasan, Kecamatan Nguter, yang mencapai 1 hektare.

Tak hanya menimbulkan kerugian lahan, salah satu kejadian di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari pada 24 Juli juga menelan satu korban jiwa.

”Segera laporkan apabila melihat titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Jangan menunggu api membesar. Segera laporkan kepada petugas atau pemerintah desa jika menemukan kebakaran,” tegasnya. (kwl/adi)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
Weru karhutla sukoharjo