Krisis Air Bersih Di Sukoharjo Meluas, 14 Desa Di 3 Kecamatan Ajukan Bantuan

Iwan Kawul • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 15:35 WIB
Warga Desa/Kecamatan Weru, Sukoharjo membawa galon dan ember untuk diisi air dari bak penampungan saat bantuan air bersih dari BPBD tiba, belum lama ini. (M IHSAN/RADAR SOLO)
Warga Desa/Kecamatan Weru, Sukoharjo membawa galon dan ember untuk diisi air dari bak penampungan saat bantuan air bersih dari BPBD tiba, belum lama ini. (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Dampak musim kemarau ekstrem di Kabupaten Sukoharjo kian meluas.

Jumlah wilayah yang mengalami krisis air bersih terus bertambah.

Hingga medio September 2026, kekeringan melanda 14 desa di 3 kecamatan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, krisis air bersih hanya terjadi di Kecamatan Tawangsari, Bulu, dan Weru.

Namun, jumlah desa yang terdampak kian bertambah. 

Baca Juga: Unik! Pemkab Sukoharjo Andalkan Layanan Sedot Tinja Untuk Dongkrak PAD

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo mengungkapkan, perluasan wilayah terdampak memicu peningkatan permintaan dropping distribusi air bersih dari hari ke hari. Tercatat 1.785 kepala keluarga (KK) atau 6.703 jiwa, kini hanya bergantung pada bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah desa yang melayangkan permohonan bantuan air bersih. Wilayah terdampak yang sebelumnya hanya berpusat di beberapa titik, kini meluas hingga 14 desa di Kecamatan Tawangsari, Bulu, dan Weru,” jelas Ariyanto Mulyatmojo.

Ariyanto menambahkan, BPBD bersama pihak-pihak terkait terus bergerak menyalurkan air bersih.

Hingga 12 September, total disalurkan 2.454.500 liter air bersih atau setara 429 tangki.

Kecamatan Weru mencatatkan jumlah terdampak paling banyak. Meliputi Desa Weru, Jatingarang, Tawang, Karangmojo (termasuk SMPN 1 Weru), Ngreco (termasuk SDN 2 Ngreco), Karangwuni, Karanganyar, dan Alasombo.

Di Kecamatan Bulu, krisis air melanda Desa Kunden, Kedungsono, Ngasinan, dan Karangasem.

Sedangkan di Kecamatan Tawangsari, hanya dua desa yang terdampak kekeringan cukup parah. Yakni Desa Kedungjambal dan Pundungrejo, termasuk SMPN 3 Tawangsari.

Menurut Ariyanto, BPBD tidak sendirian dalam memasok bantuan air bersih dalam jumlah besar. Penanganan kekeringan melalui kolaborasi APBD, serta corporate social responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan dan lembaga.

Baca Juga: Polisi Buru Pelaku Pembakar Warung Babi Di Sukoharjo

“Upaya pengiriman air bersih disokong dana APBD dan kolaborasi CSR. Sinergi ini sangat krusial, agar distribusi air berjalan berkesinambungan. Bisa menjangkau seluruh titik lokasi warga yang terdampak kekeringan,” imbuh Ariyanto.

Sementara itu, BPBD mengimbau masyarakat di daerah rawan kekeringan untuk bijak dalam menggunakan air bersih. “Selalu berkoordinasi dengan perangkat desa maupun BPBD, jika pasokan air mulai menipis,” bebernya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
kekeringan krisis air bersih sukoharjo dropping air bersih