Bidik Etanol Masuk Industri Kosmetik Dan Farmasi, Profesor BRIN Terjun Ke Sukoharjo

Iwan Kawul • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:55 WIB
Kunjungan perwakilan BRIN dan Brida Jawa Tengah di salah satu IKM etanol di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Selasa (15/9). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Kunjungan perwakilan BRIN dan Brida Jawa Tengah di salah satu IKM etanol di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Selasa (15/9). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) observasi ke sentra industri etanol di Desa Ngombakan, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo, Selasa (15/9).

Observasi tersebut untuk mencari solusi atas kendala yang dihadapi industri kecil dan menengah (IKM) etanol.

Khususnya dalam meningkatkan kadar dan kualitas produk.

Observasi tersebut tindak lanjut permintaan Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Sukoharjo kepada Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Tengah.

Selanjutnya, Brida berkolaborasi dengan BRIN untuk mengkaji persoalan yang muncul di lapangan.

Baca Juga: Pilkades Serentak 2026, Sukoharjo Tetapkan 505.541 DPS Dan 458 TPS

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Aris Mukimin menjelaskan, sudah lakukan kajian literatur untuk mencari pembanding dan solusi terhadap persoalan yang dihadapi IKM etanol di Sukoharjo.

Kendala yang dihadapi yakni purifikasi untuk menaikkan kualitas produk. Kemudian masalah pencemaran lingkungan, terutama bau menyengat.

“Untuk menghasilkan alkohol dengan kadar tinggi, terutama jika ingin memenuhi standar industri kosmetik atau farmasi, ada parameter yang tidak boleh tinggi. Pencemaran udara atau bau tidak boleh tinggi,” jelas Aris.

Aris menambahkan, hasil observasi awal menunjukkan mayoritas proses produksi etanol masih konvensional.

Ini berpengaruh terhadap kualitas hasil fermentasi, hingga proses pemurnian.

Fermentasi misalnya, idealnya dilakukan dalam kondisi tertutup agar oksigen tidak masuk.

Namun di lapangan, masih ditemukan celah atau bagian yang memungkinkan udara masuk. Sehingga proses fermentasi tidak optimal.

“Namanya IKM, lebih ke aspek praktis. Sehingga fermentasinya tidak menghasilkan 100 persen,” imbuhnya.

Persoalan berikutnya ditemukan pada proses destilasi. Proses pemurnian etanol belum menggunakan pengaturan suhu secara terkontrol.

Dampaknya, berbagai komponen hasil fermentasi atau biasa disebut baceman, ikut menguap.

Ketika uap mengalami kondensasi, komponen yang seharusnya tidak ikut terambil, berpotensi kembali mencairan karena destilasi.

Baca Juga: Polisi Belum Ungkap Kasus Pembakaran Warung Babi Di Sukoharjo, Sapto: Serahkan Ke Pihak Berwenang

“Begitu menguap dan ada proses kondensasi, akan menjadi cair. Sangat besar kemungkinan ketika kadar etanolnya rendah, karena pengencernya air, ikut terdestilasi,” paparnya.

Selain kualitas produk, BRIN juga menemukan persoalan dalam pengelolaan limbah produksi.

Limbah etanol butuh penanganan khusus karena memiliki kandungan tertentu yang cukup tinggi.

Di tahap berikutnya, BRIN akan menguji unit destilasi di laboratorium.

Sampel baceman dari IKM etanol di Ngombakan akan diuji, untuk mengetahui potensi peningkatan kadar etanol melalui sistem destilasi yang lebih standar.

Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian Disperinaker Sukoharjo Marjono mengaku kolaborasi dengan BRIN dan Brida Jateng ini untuk membantu IKM alkohol agar naik kelas.

Target jangka panjang, produk etanol IKM Sukoharjo diharapkan memenuhi syarat untuk masuk ke pasar yang lebih luas. 

“Harapannya, industri IKM etanol ini masuk kosmetik dan farmasi. Alkohol dari IKM ini nanti bisa jadi salah satu supplier untuk dua industri tersebut,” harapnya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
polokarto sukoharjo etanol ngombakan kosmetik BRIN farmasi