Kemarau Masih Panjang, Pemkab Sukoharjo Kebut Dokumen Kontijensi Banjir

Iwan Kawul • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 15:10 WIB
Gladi Ruang Rencana Kontijensi Banjir 2026 Kabupaten Sukoharjo di Menara Wijaya lantai 9, Rabu (16/9). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Gladi Ruang Rencana Kontijensi Banjir 2026 Kabupaten Sukoharjo di Menara Wijaya lantai 9, Rabu (16/9). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Musim kemarau masih cukup panjang.

Namun, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo mulai menguji kesiapan menghadapi ancaman banjir.

Maklum, Kota Makmur termasuk langganan banjir saat musim penghujan tiba. 

Kesiapan tersebut digeber dalam Gladi Ruang atau Tabletop Exercise (TTX) Rencana Kontingensi Banjir 2026.

Gladi dipimpin Pelaksana tugas (Plt) Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo di Gedung Menara Wijaya lantai 9, Rabu (16/9). 

Baca Juga: Densus 88 dan Jatanras Ikut Dalami Pembakaran Warung Mi Babi di Sukoharjo, Ada Apa?

Kegiatan tersebut melibatkan jajaran forum komunikasi pimpinan daerah (forkompimda), sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD), badan penanggulangan bencana daerah (BPBD), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Basarnas, serta Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Sapto menegaskan, rencana yang telah disusun harus benar-benar dijalankan ketika bencana terjadi.

Menurutnya, dokumen rencana kontingensi bukan sekadar kelengkapan administrasi.

“Rencana kontingensi yang telah disusun tidak boleh hanya menjadi dokumen. Harus dipahami dan diimplementasikan oleh seluruh pihak sesuai tugas, fungsi, dan kewenangannya,” tegas Sapto.

Sapto menambahkan, mitigasi tidak bisa dibangun ketika bencana sudah terjadi.

Maka diperlukan simulasi, sebagai ruang untuk menguji apakah mekanisme penanganan yang disusun benar-benar berjalan, atau masih menyisakan celah.

Sejumlah aspek penting diuji dalam kegiatan tersebut.

Mulai dari mekanisme koordinasi dan komunikasi, pengambilan keputusan, mobilisasi sumber daya, hingga pembagian peran masing-masing unsur dalam kondisi darurat banjir.

Sapto meminta seluruh peserta mengikuti simulasi secara serius. Setiap skenario harus berjalan sesuai gambaran kondisi riil di lapangan.

Baca Juga: Bidik Etanol Masuk Industri Kosmetik Dan Farmasi, Profesor BRIN Terjun Ke Sukoharjo

Harapannya, berbagai persoalan segera ditemukan sebelum bencana sesungguhnya terjadi.

“Apabila ditemukan kekurangan, hambatan, maupun ketidaksesuaian, segera diidentifikasi dan menjadi bahan penyempurnaan,” ujarnya.

Penekanan tersebut penting, karena penanganan bencana butuh respons cepat dan koordinasi lintas sektoral.

Kesalahan komunikasi, ketidakjelasan pembagian tugas, atau lambannya mobilisasi sumber daya akan memperbesar dampak bencana terhadap masyarakat.

“Jadikan setiap tahapan simulasi sebagai gambaran kondisi nyata yang mungkin terjadi. Sehingga benar-benar siap apabila bencana banjir melanda Kabupaten Sukoharjo,” pintanya. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
kontijensi banjir mitigasi dokumen sukoharjo