RADARSOLO.COM - Ancaman anomali cuaca El Nino berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk lahan pertanian di Sukoharjo.
Solusinya, sarana pengairan diperkuat.
Melalui penyaluran bantuan 92 unit pompa air berukuran 4 dan 6 dim.
Bantuan diserahkan kepada kelembagaan petani, untuk mendukung masa tanam padi.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, bantuan tersebut bagian dari intervensi pemerintah untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman perubahan pola cuaca.
"Prosesnya diawali dari usulan kelompok. Kemudian kami verifikasi di lapangan, termasuk memastikan sumber airnya tersedia dan menentukan ukuran pompa yang sesuai dengan kebutuhan," ujar Bagas saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo, Jumat (18/9).
Setelah melalui verifikasi, usulan tersebut diteruskan ke Kementerian Pertanian.
Bantuan yang telah diterima kemudian disalurkan kepada kelompok penerima.
Menurut Bagas, pompa tersebut diperuntukkan bagi kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan), Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), maupun kelembagaan petani yang terdaftar dalam sistem Kementerian Pertanian.
"Total bantuan yang diserahkan nilainya sekira Rp 2,1 miliar. Ini untuk memperkuat kesiapan petani menghadapi kondisi El Nino," tegasnya.
Bagas menyebut, di Sukoharjo terdapat sekira 160 Gapoktan. Sementara jumlah kelompok tani jauh lebih banyak karena dalam satu desa bisa terdapat tiga hingga empat kelompok tani.
Bantuan pompa ini tidak berhenti pada 92 unit.
Dinas Pertanian dan Perikanan masih menunggu tambahan bantuan sarana pertanian yang rencananya kembali disalurkan kepada petani dalam waktu dekat.
"Insya Allah dalam waktu dekat juga akan ada lagi alat-alat yang bisa kami serahkan kepada petani," katanya.
Ditempat yang sama, Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menegaskan, penguatan sektor pertanian merupakan bagian penting dari upaya pemerintah menjaga ketahanan sekaligus kedaulatan pangan.
Baca Juga: World Cleanup Day Di Sukoharjo, Sampah Harus Dipilah
Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap petani tidak hanya diwujudkan melalui bantuan pompa air.
Intervensi juga dilakukan melalui pupuk, harga gabah, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pembangunan infrastruktur pengairan.
"Salah satu yang menjadi concern Presiden Prabowo Subianto adalah swasembada pangan. Sebagian besar masyarakat kita agraris dan petani mendominasi mata pencaharian," ujar Sapto.
Dia berharap berbagai intervensi tersebut mampu membuat petani semakin produktif sekaligus meningkatkan nilai tukar petani.
"Harapannya petani lebih efisien, produktivitasnya naik, nilai tukarnya bagus. Kemudian sektor pertanian bisa menjadi penggerak ekonomi dan memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," jelasnya.
Sapto menambahkan, pemerintah pusat saat ini juga memberikan sejumlah dukungan kepada petani, mulai dari kemudahan akses pupuk, kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, bantuan alsintan hingga dukungan infrastruktur pertanian.
Pemkab Sukoharjo pun tidak berhenti pada penyaluran bantuan.
Seluruh bentuk intervensi pemerintah terhadap sektor pertanian akan direkap hingga akhir tahun untuk kemudian dibandingkan dengan perkembangan luas areal tanam dan produktivitas.
"Kita mau sandingkan, benar tidak intervensi ini kemudian ada kenaikan atau lonjakan, baik itu luas areal tanam maupun produktivitas petani. Nanti yang bicara data," tandasnya. (kwl/nik)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo