Dampak Kekeringan Di Sukoharjo Meluas, Tambah Dua Desa

Iwan Kawul • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 14:50 WIB
Warga terdampak kekeringan mengambil air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di bak penampungan saat dropping air bersih di Sukoharjo, belum lama ini. (DOK. BPBD SUKOHARJO)
Warga terdampak kekeringan mengambil air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di bak penampungan saat dropping air bersih di Sukoharjo, belum lama ini. (DOK. BPBD SUKOHARJO)

RADARSOLO.COM – Krisis air bersih di Kabupaten Sukoharjo kian hari terus meluas.

Data per 20 September, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo mencatat 16 desa di tiga kecamatan terdampak kekeringan.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan data 12 September, di mana hanya 14 desa krisis air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, dropping air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak.

Alhasil kebutuhan akan dropping air semakin meningkat.

Baca Juga: Superhero Wanita Sukoharjo Yang Selamatkan Suami Dari Kebakaran Dapat Bantuan

Data BPBD per 20 September, total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 3.424.000 liter atau 581 tangki.

Angka tersebut melonjak dibandingkan 12 September lalum, yang tercatat hanya 2.454.500 liter atau 429 tangki.

“Artinya, dalam sepekan terjadi tambahan distribusi sekira 969.500 liter air. Naiknya hampir 40 persen. Jumlah armada yang dikerahkan juga bertambah jadi 152 tangki,” jelas Ariyanto, kemarin (21/9).

Dampak kekeringan juga semakin luas.

Jika pada 12 September tercatat 1.785 kepala keluarga (KK) atau 6.703 jiwa, per 20 September meningkat jadi 1.855 KK atau 6.913 jiwa.

“Distribusi air bersih terus kami lakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan,” imbuh Ariyanto.

Tiga wilayah yang menjadi kantong kekeringan, yakni Kecamatan Tawangsari, Bulu, dan Weru.

Sejumlah desa di wilayah tersebut harus mendapatkan suplai secara berkala, karena sumber air warga kian terbatas. 

Di Tawangsari, dropping air menyasar Desa Kedungjambal, Pundungrejo, dan Watubonang.

Kemudian di Kecamatan Bulu distribusi menyasar Desa Kunden, Kedungsono, Ngasinan, dan Karangasem. Dampak cukup luas juga terjadi di Kecamatan Weru. 

Baca Juga: Pilkades Sukoharjo Rawan Money Politics, Payung Hukum dan Sanksi Kurang Tegas

Dropping air menyasar Desa Jatingarang, Tawang, Karangmojo, Ngreco, Karangwuni, Karanganyar, Alasombo, hingga Karangtengah.

“Sumber distribusi air berasal dari APBD maupun dukungan corporate social responsibility (CSR). Lonjakan volume dropping menunjukkan kebutuhan air bersih di wilayah terdampak belum mereda,” ujarnya.

BPBD saat ini masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan.

Termasuk menyesuaikan distribusi dengan kebutuhan masyarakat.

Krisis air bersih yang awalnya terkonsentrasi di sejumlah desa, kini menunjukkan tren meluas. Baik dari sisi wilayah terdampak maupun volume bantuan air yang harus digelontorkan. (kwl/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
kemarau panjang kekeringan krisis air bersih sukoharjo