RADARSOLO.COM – Agustus menjadi bulan paling rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Sukoharjo.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, terdapat 39 kejadian karhutla sepanjang Agustus.
Ini angka tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, hingga 20 September terdapat 105 kejadian karhutla.
Kebakaran tersebar di 12 kecamatan, melalap lahan seluas 503,92 hektare.
Baca Juga: Angka Kematian Ibu dan Bayi Tinggi di Polokarto Sukoharjo, Terjunkan PKK Dampingi Bumil
“Kalau dilihat dari data, kejadian paling banyak terjadi pada Agustus. Totalnya ada 39 kejadian,” jelas Ariyanto.
Ariyanto menambahkan, karhutla terbanyak juga terjadi pada Juli. Totalnya 31 kejadian.
Kemudian September 28 kejadian, Juni 6 kejadian, dan Mei 1 kejadian.
Kecamatan Bulu masuk wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak. Totalnya mencapai 31 kejadian dengan luas lahan terbakar 307,5 hektare.
Disusul Nguter dengan 19 kejadian dan luas 72,17 hektare. Serta Tawangsari dengan 14 kejadian dan luas 26,55 hektare.
“Kecamatan Bulu paling banyak kejadian. Baik dalam hal jumlah kejadian maupun luas lahan yang terbakar,” imbuhnya.
BPBD mencatat karhutla tidak hanya membakar lahan kosong, tetapi juga kawasan hutan rakyat, kebun tebu, lahan kosong, rumpun bambu, hingga habitat alami.
Dampak lainnya berupa asap pekat yang mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.
Bahkan, satu korban meninggal dunia tercatat dalam kejadian karhutla di Kecamatan Bendosari, 25 Juli lalu.
Ariyanto mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.
“Warga diminta tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan, karena kondisi kering membuat api mudah membesar dan merembet ke area lainnya,” pesan Ariyanto. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo