RADARSOLO.COM – Kekeringan yang melanda Kabupaten Sukoharjo hingga kian meluas.
Kendati demikian, Pemkab Sukoharjo belum menaikkan status jadi tanggap darurat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo menilai, krisis air bersih masih bisa diatasi dengan dropping.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, kekeringan saat ini belum memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai tanggap darurat.
Baca Juga: Perkuat Layanan, Sanggar Inklusi Sukoharjo Jangkau 1.060 ABK
Data hingga 28 September, dropping air bersih menyasar Kecamatan Tawangsari, Bulu, dan Weru.
Bantuan dibagikan ke 17 desa yang terdampak kekeringan. Totalnya mencapai 4.324.000 liter air atau setara 730 tangki.
Dropping tersebut menjangkau 2.204 kepala keluarga (KK) atau 8.053 jiwa. Bantuan air bersih bersumber dari APBD maupun dukungan corporate social responsibility (CSR).
Baca Juga: DPB Triwulan III 2026, KPU Sukoharjo Tetapkan 702.580 Pemilih
Meski distribusi air terus dilakukan, BPBD belum ada sinyal menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan kekeringan. Diketahui alokasi BTT sekira Rp 7 miliar.
“Semoga tidak digunakan. Artinya, tidak sampai terjadi status tanggap darurat kekeringan,” jelas Ariyanto. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo