Sumur Bor Selesai Dibangun, Giliran Petani di Baki Sukoharjo Terkendala Modal Tanam

Iwan Kawul • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:33 WIB
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno dialog dengan petani Desa Pandeyan, Kecamatan Baki. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno dialog dengan petani Desa Pandeyan, Kecamatan Baki. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Persoalan air yang sebelumnya menghantui petani di Desa Pandeyan, Kecamatan Baki mulai mendapat solusi.

Pemerintah telah membangun sumur untuk mengatasi kebocoran saluran irigasi yang membuat pasokan air tak mampu menjangkau lahan di wilayah hilir.

Namun, persoalan baru muncul. Setelah sumber air tersedia, sebagian lahan di sekitar sumur belum juga ditanami untuk musim tanam (MT) 1.

Penyebabnya bukan lagi air, melainkan keterbatasan modal petani.

Baca Juga: Balita Stunting di Bulu Sukoharjo Kondisinya Memprihatinkan, PMI Turun Tangan

Kondisi tersebut terungkap saat Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo bersama camat Baki, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan sejumlah pihak ketiga mengumpulkan petani, Minggu (4/10).

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, dari pertemuan tersebut diketahui petani mengalami keterbatasan modal karena hasil panen sebelumnya kurang maksimal.

”Air sudah kami intervensi dengan membangun sumur. Tetapi setelah sumur jadi, ternyata petani belum bisa segera menanam karena terkendala modal. Panen sebelumnya kurang bagus,” kata Bagas.

Baca Juga: Antisipasi Banjir jelang Musim Penghujan, Sungai di Perbatasan Mulai Dibersihkan

Menurut dia, pemerintah tidak ingin persoalan tersebut berhenti pada penyediaan sumber air.

Karena itu, solusi berikutnya diarahkan pada dukungan permodalan agar lahan bisa segera produktif dan MT 1 berjalan.

”Kami menggandeng pihak ketiga, seperti rice mill (penggilingan padi), untuk membantu permodalan petani. Mekanismenya nanti dibicarakan bersama, termasuk hasil panen dibeli oleh pihak yang memberikan dukungan dengan harga sesuai pasar,” jelasnya.

Skema tersebut diharapkan menjadi solusi berkelanjutan. Petani mendapatkan modal untuk mengolah lahan dan menanam.

Sementara hasil panen memiliki kepastian penyerapan tanpa mengabaikan harga pasar.

Bagas menegaskan, pemerintah akan terus mengawal proses tersebut agar intervensi yang diberikan tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur.

Baca Juga: TNI Gadungan Ngaku Pengawal Komandan, Gasak Motor Tetangga Kos di Sukoharjo

Persoalan air dan modal harus ditangani secara beriringan agar lahan pertanian kembali produktif.

”Harapannya petani bisa segera tanam. Air sudah tersedia, persoalan modal kita carikan jalan keluarnya bersama-sama,” tandasnya. (kwl/adi)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
baki sukoharjo modal tanam padi petani