RADARSOLO.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo memperketat kewaspadaan terhadap penyakit antraks.
Buntut dari empat warga di Gunungkidul yang berbatasan langsung dengan Sukoharjo terpapar penyakit ini.
Salah satu usaha mencegah penularan penyakit ini, dengan menggencarkan vaksinasi ternak di kawasan perbatasan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Distankan) Sukoharjo Bagas Windaryatno mengatakan, hingga kini Kota Makmur masih berstatus bebas antraks.
Berdasarkan catatan beberapa dekade terakhir, tidak ditemukan kasus maupun gejala penyakit antraks pada ternak dan manusia di wilayah tersebut.
Baca Juga: RSUD Sukoharjo Dapat Hibah Alkes CT Scan Canggih dari Kemenkes
“Karena Sukoharjo merupakan daerah yang berbatasan langsung, kami melakukan beberapa langkah antisipasi. Sampai saat ini Sukoharjo masih merupakan daerah yang bebas dari antraks,” kata Bagas, Selasa (6/10).
Langkah pertama dilakukan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada masyarakat, khususnya peternak.
Mereka diminta tidak mendatangkan ternak dari daerah yang tengah mengalami wabah antraks.
Baca Juga: Api Karhutla di Hutan Giritirto Wonogiri Sempat Padam, tapi Kembali Menyala
Selain edukasi, distankan melakukan vaksinasi preventif di wilayah perbatasan atau border area.
Vaksinasi diprioritaskan di Kecamatan Weru dan Bulu yang berbatasan langsung dengan DIJ.
“Untuk hari ini kami memiliki stok 100 dosis vaksin dan kami aplikasikan di wilayah perbatasan. Kami juga sudah mengajukan tambahan vaksin ke Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah dan provinsi menyanggupi untuk menambah,” jelasnya.
Bagas mengatakan vaksinasi akan diperluas ke sejumlah wilayah yang berdasarkan mitigasi memiliki potensi risiko.
Di Kecamatan Weru, wilayah yang menjadi perhatian meliputi Desa Krajan, Karangwuni, dan Grogol.
Sementara di Kecamatan Bulu, pengawasan mencakup Desa Sanggang.
Pengawasan juga diperkuat di pasar hewan.
Baca Juga: Pemkot Serius Urus PKL, Bentuk UPTD Khusus Pengelola
KIE kepada pedagang dan peternak dilakukan secara rutin, disertai pencegahan berupa disinfeksi terhadap ternak maupun sarana angkutan yang masuk ke pasar hewan.
“Pasar hewan pasti menjadi perhatian. Secara rutin kami melakukan KIE, kemudian melakukan disinfeksi pada ternak maupun sarana angkutan yang masuk ke pasar hewan,” tegas Bagas.
Menurut dia, berbagai langkah tersebut dilakukan untuk mempersempit jalur masuk antraks sekaligus memastikan status Sukoharjo tetap bebas dari penyakit tersebut.
Sebelumnya, empat warga Padukuhan Pelem, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, yang terkonfirmasi positif antraks setelah mengonsumsi daging kambing mati mendadak kini telah sembuh.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul masih memantau 47 warga lain yang memiliki riwayat kontak dengan kambing yang mati mendadak tersebut, dengan pemberian antibiotik profilaksis.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Ismono mengatakan, kejadian tersebut pertama kali ditemukan pada awal September lalu. Saat itu, terdapat tujuh kambing yang mati.
Namun, tiga ekor di antaranya sempat disembelih sebelum dagingnya dibagikan dan dikonsumsi warga.
Setelah daging kambing dibagikan, sejumlah warga mengalami luka yang menyerupai gejala penyakit antraks.
Baca Juga: Bea Cukai Solo Musnahkan 12,8 Juta Rokok Ilegal
Kondisi tersebut kemudian ditindaklanjuti Pemkab Gunungkidul melalui penyelidikan epidemiologis untuk mengetahui kemungkinan paparan dan penularan terhadap warga yang memiliki riwayat kontak dengan hewan terduga terinfeksi.
Dari penelusuran awal terdapat tujuh warga berstatus suspek. Setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, empat di antaranya positif.
“Yang PCR positif konfirmasi antraks ada empat,” kata Ismono kepada Jawa Pos Radar Jogja, Jumat (2/10). (kwl/jpg/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo