Tak Sekadar Irigasi, Sektor Pertanian di Sukoharjo Juga Butuh Pasokan Listrik

Iwan Kawul • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 18:33 WIB
Pembukaan jaringan listrik untuk irigasi pertanian di Sukoharjo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Pembukaan jaringan listrik untuk irigasi pertanian di Sukoharjo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Produktivitas pertanian tidak hanya ditentukan ketersediaan air dan bantuan alat mesin pertanian (alsintan).

Dukungan jaringan listrik hingga strategi pemasaran hasil panen juga menjadi faktor penting yang perlu dibenahi.

Pemkab Sukoharjo pun mendorong pendekatan lintas sektor agar berbagai kendala yang dihadapi petani bisa ditangani secara konkret.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo mengatakan, persoalan pertanian di lapangan sangat beragam dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu jenis intervensi.

Selain pengairan, dukungan infrastruktur listrik, pengelolaan irigasi, penanganan pascapanen, hingga pemasaran harus mendapat perhatian.

Baca Juga: Peringati Hari Jadi Kartasura Sukoharjo, Dorong Budaya dan UMKM Jadi Penggerak Ekonomi

”Persoalan pertanian ini tidak hanya satu faktor. Ada masalah dukungan jaringan listrik, pengelolaan irigasi yang berkaitan dengan balai besar maupun dinas pekerjaan umum, kemudian pascapanen dan pemasaran. Semua harus kita lihat secara menyeluruh,” ujar Eko Sapto, kemarin (11/10).

Menurut Sapto, pemerintah perlu memastikan berbagai program dan bantuan yang diberikan benar-benar berdampak terhadap peningkatan produktivitas.

Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), irigasi perpipaan atau IRPOM, hingga kebijakan pendukung harus berjalan beriringan dengan penyelesaian kendala teknis di lapangan.

Baca Juga: Nyamar Jadi Jemaat, Eks Karyawan Gasak Panther Milik Gereja di Kartasura Sukoharjo

Salah satu inovasi yang dinilai berpotensi meningkatkan intensitas tanam adalah pembangunan sumur dalam.

Melalui satu titik sumur, lahan pertanian seluas sekitar 10 hektare berpeluang memperoleh dukungan pengairan yang memadai.

Dengan demikian, lahan yang sebelumnya kesulitan melakukan tiga kali masa tanam dan panen dalam setahun diharapkan dapat lebih produktif.

”Ini baru kita bicara sumur dalam. Satu titik bisa melayani sekitar 10 hektare. Lahan yang tadinya tidak bisa tiga kali panen, sekarang diharapkan bisa tiga kali panen,” jelasnya.

Selain infrastruktur pengairan, dukungan alsintan seperti rotavator dan combine harvester juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi usaha tani.

Namun, Sapto mengingatkan bahwa seluruh bantuan tersebut perlu diintegrasikan dengan kebutuhan riil petani, termasuk dukungan energi untuk operasional sarana pertanian.

Baca Juga: Kandangkan 40 Motor Knalpot Brong di Sukoharjo, 40 Orang Tes Urine

Karena itu, Pemkab Sukoharjo mendorong saresehan petani sebagai forum untuk mengidentifikasi persoalan sekaligus mempertemukan kebutuhan lapangan dengan solusi pemerintah.

Petani dapat menyampaikan kendala yang mereka hadapi, sedangkan organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi terkait bisa menindaklanjutinya sesuai kewenangan masing-masing.

”Melalui saresehan, petani bisa menyampaikan pengalaman, kendala, dan harapannya. Kita ingin forum ini menjadi jembatan antara masalah dan solusi, bukan sekadar pertemuan,” tegas Sapto.

Dia menambahkan, inovasi pertanian tidak boleh berhenti di sawah.

Pengembangan pertanian pekarangan atau urban farming juga perlu diperkuat, termasuk memastikan hasil produksinya memiliki nilai ekonomi melalui strategi pemasaran yang tepat.

Budi daya lidah buaya menjadi salah satu contoh potensi yang perlu didukung agar produk yang dihasilkan terserap pasar. (kwl/adi)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
irigasi pertanian sukoharjo listrik