RADARSOLO.COM – Upaya mitigasi bencana tanah longsor di Kabupaten Sukoharjo mulai memanfaatkan teknologi modern.
Berupa early warning system (EWS) tanah longsor berbasis sensor, yang terhubung langsung dengan satelit.
Alat ini dipasang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo di Dusun Tritis RT 1 RW 2, Desa Kamal, Kecamatan Bulu, Senin kemarin (12/10).
Keberadaan sensor satelit diharapkan membantu mendeteksi potensi pergerakan tanah secara akurat.
Baca Juga: Dramatis! SMA Kalam Kudus Sukoharjo Tekuk Karangturi 62-60, Final DBL Central Java di Tangan
Sehingga peringatan dini dapat disampaikan lebih cepat kepada masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan rawan longsor.
Kepala Pelaksana BPBD Sukoharjo, Ariyanto Mulyatmojo menjelaskan, pemasangan EWS di Desa Kamal bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
Terutama dalam menghadapi ancaman tanah longsor.
“Teknologinya sudah menggunakan sensor dan terhubung melalui satelit. Untuk sementara, kuota internetnya menggunakan anggaran dari APBD Provinsi Jawa Tengah. Nantinya akan dialihkan menggunakan APBD Kabupaten Sukoharjo,” jelas Ariyanto.
Baca Juga: Bobol Rumah Warga di Cemani Sukoharjo, Dua Residivis Gasak Barang Elektronik
Dari sisi anggaran, biaya pemasangan sistem EWS di Desa Kamal mencapai Rp 70 juta per unit.
Jangkauan sensor tersebut diklaim mampu mencapai radius hingga 5 kilometer (km).
Luasnya jangkauan tersebut, EWS ini diharapkan membantu pemantauan kondisi tanah di kawasan sekitar titik pemasangan.
Namun, efektivitas peringatan dini tetap bergantung pada kondisi di lapangan.
Termasuk kondisi pengoperasian perangkat, serta kesiapan masyarakat dalam merespons peringatan yang diberikan.
Ariyanto menjelaskan, saat ini di Sukoharjo memiliki dua unit EWS longsor yang dipasang di Kecamatan Bulu.
Baca Juga: Nyamar Jadi Jemaat, Eks Karyawan Gasak Panther Milik Gereja di Kartasura Sukoharjo
Selain Desa Kamal, perangkat serupa juga dipasang di Desa Sanggang.
Meski fungsinya sama, kedua perangkat tersebut teknologinya berbeda. EWS di Desa Sanggang masih menggunakan sistem sederhana.
Berupa kawat seling yang terhubung dengan mekanisme pemicu sirene. Ketika terjadi pergerakan atau getaran, sirene otomatis berbunyi.
Baca Juga: Tak Sekadar Irigasi, Sektor Pertanian di Sukoharjo Juga Butuh Pasokan Listrik
BPBD berharap EWS tidak sekadar perangkat pendeteksi, tetapi juga mendukung kesiapsiagaan warga yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Masyarakat tetap perlu memahami prosedur evakuasi, serta mengikuti arahan petugas apabila muncul tanda-tanda bahaya. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo