Tikus merupakan hewan pengerat yang sering membuat pusing. Bukan hanya merusak tanaman pertanian, persawahan, dan perkebunan. Tetapi juga berpotensi menjadi hama di rumah.
Biasanya, petani membasmi tikus dengan setrum (jebakan listrik). Padahal, sudah banyak nyawa melayang akibat jebakan tersebut. Cara lainnya, dengan aksi gropyok-an tikus dengan melibatkan jajaran TNI/Polri. Tapi, lagi-lagi cara ini kurang efektif. Karena kurang membasmi seluruh populasi tikus.
Solusi lainnya, memanfaatkan predator alami tikus. Biasanya dengan memelihara burung hantu. Hanya saja upaya ini kurang menyeluruh. Hanya terpusat di daerah-daerah tertentu.
Kini, berbagai inovasi diciptakan untuk membasmi populasi tikus. Salah satunya membuat racun tikus dari bahan alami. Seperti kreasi siswa SMAN 3 Surakarta Naila Izzati. Dia membuat racun tikus dari aneka bahan alami. Tanpa bahan kimia sedikitpun.
Mengapa tidak memakai bahan kimia? Padahal lebih ampuh dan cepat membasmi tikus. Naila mengaku racun tikus yang saat ini beredar di pasaran kurang memerhatikan keamanan bagi pengguna. Selain itu, desainnya kurang praktis. Tidak berorientasi pada semua target spesies tikus, kurang berestetika, dan juga tidak dilengkapi sistem pengumpanan yang baik.
“Bahan-bahan yang digunakan mudah ditemui di sekeliling kita. Di antaranya sabut kelapa, limbah kepala ikan, bekatul, dan tepung kanji,” terang Naila, kemarin (2/9).
Sebagai catatan, kelapa memiliki kandungan kalium sebesar 10,25 persen. Jika mengalami proses pembakaran hingga 20-30 persen, bisa membekukan darah. Zat alami inilah yang digunakan Naila untuk membunuh hama tikus. “Zat tersebut akan berkerja membekukan darah dan menghentikan detak jantung,” jelasnya.
Racun buatannya juga sudah diujicobakan pada hama tikus. Hasilnya, tikus mati dalam 12-24 jam. Memang,ini jauh lebih lama dibandingkan racun dari bahan kimia. Namun dibanding racun dari produk alami lainya, produk Naila paling ampuh dan cepat.
“Suda dicoba untuk tikus got. Cukup 12 jam tikus sudah mati. Jika semisal tikus mati itu dimakan ular, juga tidak berbahaya,” imbuh Naila.
Proses produksi racun tikus alami sangat sederhana. Sehingga dapat ditiru oleh masyarakat awam. Pertama, sabut kelapa dibakar dan dihaluskan. Kemudian dicampur bersama dengan bahan-bahan lainnya dan dijemur di bawah sinar matahari.
“Sabut kepala itu residunya tidak sebanyak yang sintesis, jika sampai ke tanah dan air. Karena ini dari bahan alami, juga bisa mengurangi secondary food poisoning. Menciptakan produk alternatif yang alami dan ramah lingkungan, sekaligus mendaur ulang limbah, ” bebernya.
Melalui sebuah produk inovasi hasil pemikirannya yang kreatif, Naila berharap bisa memberi sumbangan pengetahuan baru pada dunia sains. Dan secara tidak langsung juga ikut merawat lingkungan, dengan memanfaatkan limbah yang ada menjadi suatu produk baru. Sekaligus memberikan alternatif alami untuk mengendalikan hama tikus bagi para petani.
“Maka dengan lahirnya inovasi ini, dapat menciptakan produk alternatif ramah lingkungan. Juga mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya yang bisa merusak lingkungan,” tandasnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram