Inovasi ini berawal dari menumpuknya limbah biji ketapang di sekitar lingkungan Yudha. Oleh masyarakat, biji ketapang justru dipandang sebelah mata. Diklaim tidak ada manfaatnya. Padahal, biji ketapang mengandung kadar gizi tinggi. Oleh Yudha, biji ketapang disulap jadi minuman yoghurt.
“Biji pohon ketapang sering berserakan di pinggir jalan. Lalu saya berpikir, mengapa tidak dimanfaatkan menjadi suatu produk pangan? Selain mudah diolah, biji ketapang punya kandung gizi tinggi,” ungkapnya, Jumat (27/1/2023).
Hasil uji laboratorium, biji ketapang mengandung 5,8 persen karbohidrat. Kemudian 11,75 persen serat, 16 persen gula, serta 25,3 persen protein. Termasuk kandungan berbagai jenis asam amino, yang bermanfaat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
Demi menghasilkan yoghurt dengan kadar protein tinggi, biji ketapang difermentasi selama minimal delapan jam. Menggunakan starter lactobacillus bulgaricus.
“Yoghurt biji ketapang ini saya gunakan metode inkubasi selama 0-16 jam. Saya juga membuat starter sendiri dari lactobacillus bulgaricus dan streptococcus thermophilus. Kemudian diinokulasi ke susu biji ketapangnya,” bebernya.
Pembuatan yoghurt biji ketapang terbilang mudah. Bahan bakunya juga sederhana. Namun, harus diolah dengan teknik khusus. Serta diperlukan beberapa trik untuk menghasilkan cita rasa lebih kental dan bernutrisi tinggi.
“Secara tampilan memang sedikit berbeda dari yoghurt pada umumnya. Minuman ini lebih kental dan asam. Tapi aman dinikmati semua kalangan, termasuk dikonsumsi dalam jangka waktu lama,” imbuh Yudha.
Ke depan, Yudha berniat mengembangkan yoghurt kreasinya. Akan ditambah bahan lainnya, untuk menambah khasiat dari minuman ini. Salah satunya menambah daun seledri, yang mengandung serat, vitamin, dan mineral tinggi. Di antaranya menjaga kesehatan jantung, mempertahankan fungsi pencernaan, termasuk membantu mengontrol gula darah.
“Ya nanti pasti akan dikembangkan lagi. Ditambah bahan-bahan alami yang baik untuk kesehatan. Salah satunya daun seledri,” ujarnya.
Sementara itu, Fatipa Unisri memiliki inperhatian khusus dalam pengembangan produk pangan. Terutama produk pangan yang membuat konsumen lebih sehat.
“Kami tahu Indonesia negara kaya. Punya potensi lokal yang bisa dikebangakan untuk produk-produk inovatif. Maka kami olah potensi yang ada, menjadi produk pangan fungsional dan menyehatkan,” papar Dekan Fatipa Unisri Nanik Suhartatik. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram