RADARSOLO.COM - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo berhasil membuat robot drone tanpa awak, yang difungsikan untuk misi penyelamatan korban bencana alam. Tak tanggung-tanggung, inovasi mereka menyabet dua penghargaan di kompetisi internasional.
Hadirnya unmanned aerial vehicle (UAV) atau yang lebih dikenal dengan drone, tidak sekadar untuk merekam objek video atau foto dari ketinggian. Drone juga memiliki peran krusial dalam manajemen mitigasi kebencanaan di Indonesia.
Bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh kelalaian manusia (human error) seringkali meninggalkan kehancuran pada lingkungan sekitarnya. Kondisi area terdampak bencana cenderung sulit diakses oleh petugas tanggap bencana alias tim search and rescue (SAR).
Di sisi lain, banyak hal yang harus segera dilakukan para relawan maupun tim SAR pascabencana alam. Terutama menyangkut keselamatan para korban. Termasuk menyisir seluruh area, memetakan wilayah dan jalur alternatif, serta mendistribusikan berbagai bantuan untuk para korban.
Pekerjaan tersebut terkadang sangat sulit dilakukan. Apalagi jika area terdampak bencana tergolong luas. Berawal dari itu, mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bengawan Unmanned Vehicle (UV) UNS menciptakan drone untuk mitigasi kebencanaan.
Mereka adalah Diasdamara Fakhri Nugroho, Rakhli Dian Pramudya, Ibnu Naufal, serta M. Kholilul Hilmy B. Koordinator Tim UV UNS Diasdamara menjelaskan, robot drone ini bisa digunakan untuk emergency services indoor. Mampu mendeteksi jalur evakuasi untuk kebutuhan pertolongan pertama, pencarian objek (korba), hingga pencitraan ruang. Termasuk mendeteksi posisi gedung secara keseluruhan, mulai dari depan, samping, hingga atas.
“Robot ini bisa memotret dari masing-masing sisi gedung. Di mana waktu uji coba perlombaan, robot kami bisa memecahkan kode QR yang ada di masing-masing gedung,” ucap Dias (sapaan akrab Diasdamara).
Drone ini sangat efektif dalam mengidentifikasi lokasi korban bencana secara tepat dan akurat. Selama uji coba, drone bisa memecahkan kode QR yang diindikasikan sebagai korban. Menariknya, drone ini juga memiliki kemampuan untuk mendorong dan mencengkeram benda.
“Jadi saat lomba kemarin, kami diberikan kode QR yang harus dipecahkan. Kode QR itu ada yang kosongan, ada yang berisi. Kode QR yang berisi itu diibaratkan sebagai korban bencana,” bebernya.
Pembuatan drone yang digagas Tim Bengawan UV UNS ini memakan waktu sekira 6-8 bulan. Proyek tersebut dimulai akhir 2022. Di mana mereka menyiapkan kebutuhan program, rangka, elektronis, hingga pematangan.
“Proses elektronis dan pemrograman paling memakan waktu. Karena banyak program yang harus dimasukkan ke drone,” ungkapnya.
Dias menambahkan, drone ini menyabet dua penghargaan bergengsi di kompetisi internasional. Tepatnya pada ajang FIRA Roboworld Cup and Summit 2023, yang berlangsung 17-21 Juli lalu.
“Alhamdulillah kami dapat first place (juara 1) kategori emergency service. Kami juga meraih technical award yang bisa diselesaikan, yaitu object grasping (mencengkeram benda),” beber Dias bangga. (ian/fer/ria)
Editor : Syahaamah Fikria