Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Berburu Buah Matoa di Banyudono, Boyolali: Bisa Petik Langsung, Setahun Panen Dua Kali

Ragil Listiyo • Minggu, 8 Oktober 2023 | 15:00 WIB
SIAP DIPETIK: Warga Dusun Karangduwet, Desa Bendan, Banyudono, Boyolali menunjukkan salah satu pohon matoa miliknya yang sudah berbuah.
SIAP DIPETIK: Warga Dusun Karangduwet, Desa Bendan, Banyudono, Boyolali menunjukkan salah satu pohon matoa miliknya yang sudah berbuah.

RADARSOLO.COM - Buah asli asal Papua, matoa dibudidayakan di Dusun Karangduwet, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Ada puluhan pohon matoa yang ditanam warga, tak ayal kawasan tersebut sebagai Kampung Matoa.

Perjalanan menuju Kampung Matoa cukup mudah. Dari simpang empat Ngangkruk, Kecamatan Banyudono ambil ke arah selatan sekira 1 kilometer (km). Kemudian, akan ada jalan ke arah barat di gang Ki Ndoro Singo. Dusun Karangduwet mungkin tak ada bedanya dengan dusun lainnya di Bendan.

Bedanya, hampir tiap rumah memiliki pohon buah matoa yang memiliki nama latin Pomea Pinnata. Satu pekarangan rumah warga memiliki dua sampai tiga pohon matoa. Pohon-pohon matoa sudah besar dan rimbun berusia puluhan tahun. Masa panen buah matoa biasanya pada Agustus sampai Desember.

Saat musim buah, tak jarang banyak pengunjung yang datang langsung ke Kampung Matoa. Meskipun pohonnya bisa mencapai 50 meter, namun tak menyurutkan minat untuk menikmati buah matoa. Bahkan, pengunjung bisa membantu nyenggek alias memetik menggunakan galah panjang.

Salah seorang pemilik pohon matoa Mutia mengamini hampir seluruh rumah di Dusun Karangduwet memiliki pohon asli Papua itu. Satu pohon matoa bisa menghasilkan 100 kg buah. Harganya mulai Rp 35 ribu-Rp 50 ribu.

”Setahun bisa dua kali, sekali panen itu sampai 50 kilo sampai kadang lebih. Karena banyak pohonnya, banyak juga yang datang langsung ke sini,” ungkapnya.

Warga lainnya, Giyanto mengatakan, alasan buah ini kerap diburu karena rasanya. Matoa merupakan buah kupas dengan daging seperti kelengkeng. Hanya saja, rasanya manis dengan perpaduan rasa rambutan, kelengkeng dan durian. Karena buahnya yang lebat, warga bisa meraup Rp 1 juta sekali panen. Buah matoa yang sudah matang, akan memiliki kulit berwarna kemerahan. Bentuknya juga besar-besar. Tekstur buah renyah dan warnanya bening.

”Rasa rata-rata rasa duren (durian, Red), belum dibuka sudah ketahuan rasanya seperti duren,” katanya.

Salah seorang pengunjung yang membeli buah matoa, Totok Sudaryanto mengaku sengaja datang langsung agar bisa melihat proses panen dan merasakan buahnya. Menurutnya, buah matoa memiliki manfaat kesehatan. Karena mengandung vitamin C dan antioksidan yang cocok untuk menungkarkan imunitas tubuh.

”Di sini rasanya sementara ini paling recomended , nanti warga di sekitar Soloraya bisa hadir di kampung matoa ini untuk mencicipi atau berbelanja, biasanya Agustus itu mulai panen,” tandasnya. (rgl/adi)

Editor : Damianus Bram
#Boyolali #matoa #Desa Bendan