RADARSOLO.COM - Ada banyak tempat di Kabupaten Sragen yang menjadi bukti sejarah kemerdekaan RI. Salah satunya Monumen Mandiro Noto di Kecamatan Mondokan. Seperti apa?
Kecamatan Mondokan merupakan wilayah utara Bengawan Solo yang punya keistimewaan. Salah satu kawasan tersebut merupakan saksi perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI dalam beberapa pertempuran gerilya. Bukti jejak perjuangan diabadikan dalam Monumen Mandiro Noto.
Bagi yang penasaran dengan wisata sejarah Indonesia, monumen kecil di Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan ini layak disinggahi. Kecamatan Mondokan yang berbatasan dengan Kabupaten Grobogan adalah satu basis Gerilya Yonif Tjanda Bhirawa.
Lokasinya berada di tengah simpang tiga jalan utama, sehingga mudah ditemukan. Jika hendak ke lokasi, jaraknya sekira 16 kilometer dari pusat kota Sragen. Ditempuh sekira 45 menit perjalanan menggunakan sepeda motor.
Sejumlah warga setempat menyebut sebelum dibangun monumen, pernah ada arca di kawasan tersebut. Namun sekarang keberadaanya sudah tidak diketahui. Kondisinya sekarang lebih terawat dari pada beberapa waktu lalu. Untuk penataan memang perlu diperhatikan kembali. Lantaran masih ada tiang listrik dan sebagainya yang membuat kawasan tersebut kurang menarik.
Camat Mondokan, Agus Endarto menyampaikan, pahlawan nasional Jenderal Gatot Subroto pernah singgah di Kecamatan Mondokan saat perang gerilya. Kemudian monumen Mandiro Noto didirikan oleh Mayjen TNI (Purn) Soedarmono pada 14 Juli 1987. Soedarmono yang merupakan mantan Wakil Presiden mendampingi Soeharto saat itu juga tergabung dengan pasukan tersebut. Soedarmono juga pernah menjadi Komandan Batalyon II Tjanda Bhirawa Brigif VI Divisi III.
”Dulu posnya Resimen Tjanda Birawa itu juga di sini,” ujarnya.
Agus menambahkan, berdirinya monumen tersebut merupakan wujud terima kasih TNI pada masyarakat Mondokan yang saat itu mendukung penuh perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
”Dulu tidak ada markas resmi, jadi para pasukan gerilya bermukim di rumah-rumah warga dan membaur,” terangnya.
Maka pada saat agresi militer II pada 1948, TNI sangat terbantu. Jenderal Gatot Subroto sempat berada di sekitar Kecamatan Mondokan. Apalagi Mondokan menjadi jalur gerilya memudahkan TNI mengkomando pasukan.
”Karena kawasan Mondokan juga terkoneksi hingga wilayah Jawa Timur. Warga sekitar juga membantu dalam memberi informasi hingga menyumbang persediaan logistik untuk tentara,” tandasnya. (din/adi)
Editor : Damianus Bram