RADARBOYOLALI.COM-Berwisata tak melulu harus ke alam. Bagi traveler pecinta lawasan, berkunjung ke museum bisa jadi solusi.
Salah satunya museum cagar budaya R. Hamong Wardoyo di Boyolali ini.
Museum ini terletak di selatan simpang empat Tegalwire, Jalan Pandanaran, Tegalmulyo, Kelurahan Siswodipuran, Boyolali Kota.
Museum R Hamong Wardoyo memiliki taman kecil dengan bangunan yang didominasi warna putih. Uniknya, museum ini memiliki atap susun kaca yang di dalamnya terdapat bunga-bunga kamboja merah.
Begitu memasuki area museum lewat pintu barat, akan disajikan relief besar yang menggambarkan perang puputan di Desa Kebon Bimo, Kecamatan Boyolali Kota.
Perang penyerangan terhadap Belanda pada 1949 itu menampilkan para pejuang yang membawa senjata laras panjang sambil mengepalkan tangan.
Di dalam museum, terdapat batu-batu cagar budaya yang diselamatkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali. Seperti yoni-yoni besar, nandi atau batu berbentuk sapi duduk kendaraan Dewa Siwa dan lainnya.
Hanya saja, kondisi nandi sudah terpenggal kepalanya. Selain itu, terdapat lesung kayu besar yang diperkirakan digunakan masyarakat tempo dulu.
Masuk semakin dalam, terdapat lorong panjang dengan etalase kaca. Di antaranya terdapat batu makara candi dari batu putih. Ada juga temuan tulang gajah purba, Humerus Stegodon yang ditemukan di Kecamatan Andong.
Kemudian ada juga miniatur kondisi Boyolali yang menggambarkan penyerangan saat masa perjuangan. Hingga erupsi Merapi maupun saat tradisi sedekah gunung.
”Di lantai dua ada aula dan di atasnya memang ada taman bunga kamboja,” terang petugas Museum R. Hamong Wardoyo.
Dia memperlihatkan replika harimau Jawa. Tampak besar dengan loreng hitam berbalut bulu oranye.
Beranjak ke lantai 2, di sepanjang lorong terdapat foto-foto tempo dulu berwarna hitam dan putih. Seperti bekas pabrik gula di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono.
Sebuah pabrik zaman Belanda dengan dua corong raksasa. Kemudian terminal kuda yang kini menjadi kawasan Kelurahan Siswodipuran.
”Kami buka setiap Senin-Jumat, mulai pukul 08.00 - 15.00. Kalau di atap memang ada bunga kamboja, jadi ada estetikanya. Kami juga menampung benda-benda cagar budaya yang sudah terdaftar,” jelasnya. (rgl/adi)
Editor : Tri Wahyu Cahyono