Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Menjelajahi Situs Purbakala Candi Menggung Karanganyar: Punden Berundak Banyak Arca yang Rutin Jadi Lokasi Upacara Tradisi Dukutan

Niko auglandy • Kamis, 25 April 2024 | 20:46 WIB
Dwarapala di Candi Menggung Karanganyar yang sudah termakan zaman.
Dwarapala di Candi Menggung Karanganyar yang sudah termakan zaman.

RADARSOLO.COM - Candi Menggung merupakan wisata budaya yang jadi jejak situs arkeologis di Dusun Nglurah, Desa Tawangmanggu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Situs ini berada di sebuah areal perbukitan dengan elevasi 1.003 m dpl dengan banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar situs.

Situs Menggung atau Candi Menggung adalah tinggalan arkeologis masa klasik. Di lokasi ini masih ditemukan banyak arca.

Diantaranya arca, yaitu dianggap jadi perwujudan dari Kyai Menggung dan Arca Durga Mahisasuramardhini. Situs ini dipercaya sebagai peninggalan agama Hindu dan menjadi aset sejarah yang tidak boleh kita lepas.

Dari data BPCB Jawa Tengah tahun 1989, Situs Cansi Menggung memiliki lima halaman teras tetapi batas antar teras sudah tidak begitu jelas. Terdapat 9 arca yang ditemukan, 6 diantaranya merupakan Arca Dwarapala.

Arca Dwarapala ini terletak di dua teras yaitu teras pertama ada empat buah arca Dwarapala dan teras ketiga ada dua buah Arca Dwarapala.

Adapun dua arca lain yang terdapat di pusat Situs Menggung dikelilingi oleh tembok berbentuk persegi panjang. Satu arca merupakan perwujudan dari Kyai Menggung dan satu arca lagi merupakan Arca Durga Mahisasuramardhini atau masyarakat setempat mempercayainya sebagai perwujudan Nyi Rasa Putih.

Sementara 1 arca lainnya yang berupa Arca Bhima tanpa kepala terletak di sela-sela akar pohon yang berada di sekitar situs .

Selain 9 arca tersebut, di Situs Menggung ini juga ditemukan sebuah Yoni yang terletak di belakang pusat Situs Menggung. Temuan ini mengindikasikan adanya pemujaan terhadap Siwa.

Kata “Menggung” dari penamaan candi ini diambil dari nama Mbah Menggung. Dia sebenarnya merupakan Narotama, pengikut Raja Airlangga.

Narotama ini melarikan diri ke Wonogiri dan mendirikan peristirahatan di Nglurah. Setelah beberapa waktu, Airlangga memutuskan untuk kembali ke Kediri bersama pengikutnya yang lain.

 Narotama dan anak buahnya memilih tetap tinggal di Nglurah Mbah Menggung dikaitkan dengan keturunan pendeta Tumenggung dan menjadi pendamping Airlangga yang konon sempat singgah di Situs Menggung.

Situs Menggung sampai saat ini masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat dengan diselenggarakannya upacara tradisi “Dukutan”. Dukutan dilaksanakan pada Selasa Kliwon wuku Dukut atau setiap 7 bulan sekali.

Upacara tradisi Dukutan ini pada dasarnya merupakan wujud ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Yang Maha Kuasa atas karunia yang dilimpahkan kepada mereka.

Upacara tradisi Dukutan dimulai dari acara bergotong royong membersihkan situs, kemudian masyarakat mengumpulkan sesaji, dan acara puncak yaitu tawur sesaji yang mana masyarakat berjalan di sekitar situs sambil saling melemparkan sesaji. Upacara ini dimeriahkan pula dengan pagelaran wayang kulit selama semalam suntuk. (Nik)

BERSAHAJA: Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono saat sambutan, Selasa (23/4).
BERSAHAJA: Menteri ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono saat sambutan, Selasa (23/4).
Editor : Niko auglandy
#yoni #karanganyar #arkeologis #Candi Menggung #hindu #arca