RADARSOLO.COM - Kabupaten Sukoharjo menyimpan banyak kisah menarik dari masa lalu, termasuk jejak peninggalan era kolonial Belanda.
Salah satunya Kali Jelantah di Kepuh, Kecamatan Nguter yang diduga kanal buatan dari masa kolonial.
Berdasarkan penelitian dan peta 1861 dan 1930, terdapat perubahan signifikan pada aliran Kali Jelantah.
Jika pada peta tahun 1861 sungai ini berkelok-kelok, maka pada peta 1930 aliran tersebut sudah lurus, menandakan adanya intervensi manusia.
Pemerhati sejarah Sukoharjo Surya Hardjono menjelaskan, kanal ini kemungkinan besar dibuat untuk keperluan irigasi dan mendukung perkebunan di era kolonial.
”Jika kita melihat peta tahun 1861, aliran Kali Jelantah belum lurus. Namun pada peta 1930, sungai ini sudah berubah menjadi kanal lurus, menunjukkan bahwa ini adalah buatan manusia,” ujarnya kepada Radarsolo.com, Sabtu (14/12/2024).
Kali Jelantah yang membentang dari Kepuh hingga Bengawan Solo berfungsi sebagai jalur irigasi untuk perkebunan seperti tembakau dan gula di Jombor, Wonosari, dan Langkap.
Perubahan aliran sungai ini juga berdampak pada pemanfaatan lahan di sekitarnya.
Beberapa aliran sungai kecil dimatikan untuk dialihkan menjadi kanal. Sementara area lain berubah menjadi sawah atau perkebunan.
Surya menyebutkan bahwa data tentang pembangunan kanal ini masih minim.
Namun, catatan Mangkunegaran menunjukkan adanya biaya perawatan Kali Jelantah pada awal abad ke-20, dengan anggaran mencapai 2.310 gulden pada 1921.
”Jadi Kali Jelantah ini kemungkinan range waktunya pembuatan itu di awal antara 1900 sampai 1920-an. Kalau tahun 1920 sampai 1930 ini sesuai dengan misalnya pembangunan Kanal Baki itu juga di tahun 1918,” katanya.
Bagi pecinta sejarah atau wisatawan yang ingin menjelajahi jejak kolonial di Sukoharjo, menyusuri Kanal Kepuh bisa menjadi pengalaman menarik.
Dari Solo atau Wonogiri, perjalanan bisa dimulai dengan turun di Jembatan Kepuh.
Dari sana, pelancong dapat berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor menyusuri tanggul di sisi selatan sungai.
Meski aksesnya tidak memungkinkan untuk kendaraan roda empat, pengalaman menyusuri kanal ini memberikan pandangan langsung tentang bagaimana warisan kolonial masih berdampak pada lanskap lokal.
Kanal sepanjang sekitar 5 kilometer ini menunjukkan desain khas saluran irigasi kolonial yang dibuat untuk efisiensi aliran air.
Setelah puas menyusuri kanal, wisatawan dapat mampir ke toko roti legendaris Sukoharjo, Roti Widoro, yang lokasinya tidak jauh dari Jembatan Kepuh.
Roti ini menjadi pelengkap sempurna untuk menutup perjalanan sejarah yang mengesankan di wilayah Sukoharjo.
Menyusuri Kanal Jelantah tidak hanya membawa kita pada jejak infrastruktur kolonial, tetapi juga membuka pintu untuk memahami bagaimana masa lalu membentuk lanskap dan kehidupan masyarakat di Sukoharjo. (kwl/adi)
Editor : Adi Pras