RADARSOLO.COM - Kabupaten Wonogiri mungkin tidak seterkenal Gunung Kidul atau Sleman dalam hal peninggalan candi masa klasik.
Namun, di bawah genangan Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri ternyata tersembunyi jejak sejarah berupa Candi Bendo.
Peninggalan ini dulunya berdiri megah di Wonogiri sebelum akhirnya tenggelam seiring pembangunan waduk.
Sebelas tahun lalu, Wartawan Jawa Pos Radar Solo Nikko Auglandy Urdiyan meliput Pameran "Bengawan Solo Riwayatmu Dulu".
Diselenggarakan oleh Pusat Arkeologi Nasional di Graha Solo Raya pada 25-29 September 2013.
Masyarakat mendapat kesempatan untuk melihat berbagai peninggalan.
Mulai dari fosil kepala banteng purba, gading Stegodon (gajah purba), serta prasasti Gosari. Namun, yang paling menarik perhatian adalah kepala arca Buddha dan Buddha Bodhisattva yang berasal dari Waduk Gajah Mungkur.
Dua arca tersebut merupakan peninggalan dari Candi Bendo yang berhasil diamankan pemerintah.
Lokasi Candi Bendo kini telah terendam air waduk sejak peresmiannya oleh Presiden Soeharto pada 17 November 1981.
Lalu seperti apa bentuk Candi Bendo?, kondisi Candi Bendo didokumentasikan oleh A.S. Wibowo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam artikelnya di Majalah Arkeologi Kalpataru edisi 7 tahun 1981.
Dalam tulisannya berjudul "Mengikuti Ekskavasi Candi di Daerah Wonogiri, Jawa Tengah," Wibowo mencatat penggalian terakhir yang dilakukan sebelum Candi Bendo tenggelam akibat pembangunan waduk.
Pada 11 Juli 1980, tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta, mahasiswa arkeologi Universitas Gadjah Mada, dan penduduk setempat melakukan ekskavasi lanjutan di Candi Bendo. Lokasinya di Dukuh Glota, Desa Bulurejo, Kecamatan Nguntoronadi.
Ekskavasi pertama telah dilakukan pada 1978, yang kemudian dilanjutkan untuk memastikan struktur dan temuan lainnya sebelum lokasi tersebut benar-benar terendam.
Penduduk setempat menyebut reruntuhan candi ini sebagai Candi Bendo, karena dulunya terdapat pohon bendo besar yang tumbuh di atasnya.
Ekskavasi mengungkap bahwa kompleks percandian ini cukup luas, dengan beberapa bangunan di dalamnya.
Di bagian selatan, terdapat aliran Sungai Wiroka yang membentang ke arah barat, sementara di utara mengalir Kali Pucang Anom yang bermuara ke Sungai Wiroka.
Ekskavasi menunjukkan bahwa bangunan utama Candi Bendo memiliki denah persegi panjang berukuran 16,20 x 13,20 meter. Bagian depan berada di sisi barat.
Candi ini tidak memiliki struktur batur, sehingga kaki candinya langsung dibangun di atas tanah.
Di bagian utara dan selatan candi utama, ditemukan dua fondasi bangunan masing-masing berukuran 7,80 x 7,80 meter dengan penampil di sisi barat.
Lebih jauh ke barat daya, tim ekskavasi menemukan susunan batu dan batu bata, yang mengindikasikan adanya kompleks bangunan lain di sekitar area tersebut.
Sejumlah kepala arca Buddha juga ditemukan, mengonfirmasi bahwa Candi Bendo merupakan bangunan suci agama Buddha.
Dari segi arsitektur, candi ini memiliki kesamaan dengan Candi Plaosan Lor, Prambanan, Klaten.
Teknik penyambungan batunya pun menyerupai yang digunakan di Candi Borobudur, yaitu tanpa pasak dan lubang kait seperti di Candi Prambanan, melainkan hanya dengan cekungan dan alur agar batu tidak mudah bergeser.
Pecahan keramik Dinasti Tang yang ditemukan dalam ekskavasi semakin menguatkan bahwa Candi Bendo memiliki keterkaitan dengan jaringan perdagangan dan pengaruh budaya dari luar Nusantara.
Sayangnya, sebelum upaya pemugaran bisa dilakukan, Candi Bendo harus pasrah ditelan air Waduk Gajah Mungkur.
Meskipun data yang dikumpulkan dari ekskavasi sudah cukup banyak, masih banyak misteri yang belum terungkap dari candi ini. A.S. Wibowo dalam tulisannya bahkan menyebutkan bahwa ekskavasi lanjutan mungkin diperlukan, namun tidak akan mungkin dilakukan lagi setelah lokasi itu benar-benar tenggelam.
Kini, keberadaan Candi Bendo hanya tersimpan dalam catatan sejarah dan dokumentasi ekskavasi.
Beberapa bagian peninggalannya masih bisa ditemukan di museum dan pameran, tetapi struktur aslinya telah terkubur selamanya di bawah permukaan air Waduk Gajah Mungkur. Meski demikian, sejarah Candi Bendo tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan arkeologi dan warisan budaya Wonogiri yang perlu dikenang dan dipelajari. (nik)
Editor : Niko auglandy