Di desa ini terdapat Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan yang merupakan visitor center di antara museum yang lain. Meski demikian keberadaan museum tersebut belum mampu memberikan dampak signifikan bagi warga.
Atas dasar itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Krikilan menelurkan ide kreatif membentuk Desa Wisata Sangiran Dewi Sangir.
Dengan ini diharapkan bisa menaungi warga yang berjualan souvenir, usaha kuliner dan homestay di sekitar museum. Selain itu juga membangkitkan beragam kerajinan khas Desa Krikilan. Di antaranya Watu Sangir, Watu Lurik, Kapak Batu, Kaligrafi Bambu, dan Gelas Bambu.
Dengan membuat desa wisata, bisa nguri-uri kesenian khas seperti Gejog Lesung, Tembang Dolanan, dan Gamelan Bonang Rentheng. Selain itu punya kerajian pakaian khas seperti ikat kepala, baju lurik dan celana jarik ketika ada hajatan.
Seketaris Desa (Sekdes) Krikilan Aris Rustyoko menyampaikan, pengembangan desa wisata saat ini sudah masuk 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari sekitar 70 ribu desa di seluruh Indonesia. Diharapkan bisa terus naik hingga menjadi yang terbaik. Namun pengembangannya masih terganjal pandemi Covid-19.
Selain itu juga masih menunggu surat keputusan (SK) Bupati untuk penetapan desa wisata tingkat kabupaten. Selain itu proposal pengembangan sudah ditunggu di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
”Pengembangan saat ini terbentur Covid-19, maka kami bikin proposal untuk pengembangan. Syarat harus ada SK Bupati ini yang kami tunggu,” ujarnya.
Aris menambahkan, dengan adanya Museum Sangiran, otomatis wisata yang dikelola bersinggungan dengan museum manusia purba. Namun dibuat paket wisata yang juga menaungi karya dari warga sekitar.
”Kami desa wisata kan jual paket, tetap masuk ke museum. Paket tersebut nanti bisa diarahkan ke destinasi seperti sendang air asin, punden tingkir, ketika desa sudah siap kita aktifkan pasar budaya, diajak ke perajin dan kita beri cinderamata. Jadi pengunjung mendapat edukasi dan oleh-oleh,” ujarnya.
Dia menjelaskan banyak perajin di Desa Krikilan. Seperti batu akik, batu sangir, lurik dan pengerajin bambu. Pihaknya sudah memastikan Desa Krikilan sudah komplit untuk menggelar paket wisata. Seperti homestay ada empat lokasi yang cukup nyaman dan wahana yang menarik. Rencana akan membangun homestay lagi dengan desain yang lebih menarik.
Selain itu Desa Krikilan sudah masuk dalam jaringan desa wisata (Jadesta). Sejauh ini pihak kementerian sudah melakukan survei ke lokasi. Memastikan data yang dikirim sudah lolos masuk 100 besar.
Soal paket wisata hemat sekitar Rp 100 ribu per orang. Untuk 20-30 orang setidaknya satu bus pariwisata. Sudah keliling ke destinasi, tour guide sampai paket outbond, makan dan minum.
Saat ini promosi harus kembali dari awal akibat pandemi. Setelah museum sempat buka selama dua bulan, kembali ditutup. Kini izin dibuka lagi dan mencoba menggaet pengunjung kembali. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram