Pandemi Covid-19 bukan penghalang bagi warga Dusun Mekarsari untuk membenahi lingkungannya. DAS Kali Salak yang membelah dusun tersebut, direnovasi jadi objek wisata baru. Diberi nama Taman Mekarsari.
Objek wisata ini mulai digarap awal tahun lalu. Dilengkapi pura yang berdiri megah di pintu masuk taman. Sedangkan aliran sungai yang dulu dipenuhi sampah, perlahan dibersihkan. Dimanfaatkan warga untuk budi daya ikan nila dan koi.
Demi kenyamanan pengunjung, taman ini dilengkapi sejumlah gazebo, baik ukuran besar mapun kecil. Fasilitas lainnya, yakni toilet dan sejumlah spot foto yang Instagramable. Dan satu lagi fasilitas yang tak kalah menarik, yakni mini zoo.
Sementara koleksi satwa yang dipelihara, yakni beberapa ekor rusa. Sebagai wahana edukasi bagi pengunjung yang membawa serta anak-anaknya.
Kepala Desa Kaligentong Slamet Sumardi menjelaskan, DAS Kali Salak merupakan tanah kas desa. Dulunya terkesan kumuh, penuh sampah, dan semak belukar. Bahkan beberapa warga sekitar percaya, lokasi tersebut ada penunggunya. Sehingga jarang ada yang berani melintas.
“Sekarang DAS Kali Salak dimanfaatkan warga untuk kegiatan produktif. Lahan seluas 3.500 meter persegi ini bebas dimanfaatkan untuk destinasi wisata yang ramah anak. Sedangkan sewa lahan berlaku selama 3 tahun. Biaya sewanya Rp 1,8 juta per tahun,” terangnya, kemarin (11/12).
Terkait pengembangan Taman Mekarsari, pemerintah desa (pemdes) setempat masih wait and see. “Dilihat dulu tiga tahun ke depan. Kalau berhasil, perekonomian warga berjalan. Setelah itu, retribusi Taman Mekarsari bisa menjadi sumber pemasukan bagi dusun dan desa,” imbuhnya.
Ketua RT 01/RW 02 Dusun Mekarsari sekaligus inisiator wisata DAS Kali Salak Adi Wisnu menambahkan, pembangunan objek wisata berawal dari hasil sharing antarwarga. Mereka mengeluhkan kebiasaan negatif membuang sampah ke aliran sungai. Akibatnya, aliran sungai tersumbat. Diperparah dengan bau menyengat dari tumpukan sampah.
Lalu muncul ide untuk membersihkan sampah. Kebetulan, pandemi Covid-19 mengharuskan masyarkaat untuk work from home (WFH). Pembersihan dilakukan dua kali dalam sepekan.
“Ada gagasan mengalihfungsikan lahan menjadi taman edukasi anak. Warga gotong royong membersihkan Kali Salak. Semua dilakukan mandiri dengan dana swadaya. Warga bantingan (iuran) semampunya, yang penting guyup rukun,” beber Adi.
Kini, Taman Mekarsari terus bersolek. DAS Kali Salak dimanfaatkan sebagai kolam ikan, lengkap dengan jembatan kecil. Belik atau sumber mata air, dimanfaatkan untuk cuci tangan dan toilet. Sedangkan masalah sampah, langsung dipilah sejak dari rumah-rumah warga. Kemudian diangkut Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Boyolali. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram