Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Potensi Desa Kembang Kuning, Cepogo: Plesiran Sembari Petik Sayur dan Buah

Damianus Bram • Sabtu, 25 Desember 2021 | 17:00 WIB
TANAH KAS DESA: Pengunjung berfoto di ikon Sitinggil Garden di Desa Kembang Kuning, Cepogo, Boyolali sebelum pandemi lalu. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
TANAH KAS DESA: Pengunjung berfoto di ikon Sitinggil Garden di Desa Kembang Kuning, Cepogo, Boyolali sebelum pandemi lalu. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
BOYOLALI - Desa Kembang Kuning, Kecamatan Cepogo, Boyolali mulai menggali aset yang ada di wilayahnya. Letak geografis desa di lereng Gunung Merapi tersebut cukup potensial dijadikan kawasan wisata edukatif. Ditunjang hawa sejuk khas pengunungan.

Potensi wisata edukasi coba dikembangkan Pemerintah Desa (Pemdes) Kembang Kuning di atas lahan seluas 4 hektare. Melalui pembangunan Sitinggil Garden sejak 2018 silam. Karena menggunakan anggaran dana desa (DD), proyek ini digarap secara multiyears.

“Dulunya, lahan di sini disewa warga untuk perkebunan. Mulai 2018 kami tata sebagai objek wisata. Karena kalau kami bangun jalan dan sarpras, mungkin lima tahun ke depan bisa rusak. Harapannya dengan Sitinggil Garden ini, kami punya aset yang bisa mendongkrak perekonomian warga sekitar,” kata Kepala Desa (Kades) Kembang Kuning Yarmanto, kemarin (24/12).

Yarmanto mengaku pemdes tidak asal pilih nama Sitinggil Garden. Sesuai namanya dalam bahasa Jawa, berarti tanah di dataran tinggi. Maklum, lokasinya sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Tahap awal pembangunan Sitinggil Garden, yakni fasilitas kolam renang anak, ibu, dan dewasa. Menyajikan latar belakang pemandangan Gunung Merapi. Selain itu, juga dilengkapi taman, embung, dan kebun buah. Jadi, pengunjung bisa berwisata memetik sayur dan buah seperti kelengkeng, jambu, durian, nangka, dan sebagainya. Termasuk merasakan sensasi berkuda meneglilingi taman.

Sayangnya, pembangunan sempat dihantam pandemi. Karena DD di-refocusing ke penanganan pandemi Covid-19.

“Sejak pandemi sampai sekarang, Sitinggil Garden masih tutup. Sudah hampir 1,5 tahun. Dulu sehari bisa 2.000 pengunjung. Retribusi masuk hanya Rp 5 ribu per orang. Rencana akan kami buka lagi pertengahan Januari 2022. Sekaligus pembukaan kampung edukasi klaster,” jelasnya.

Ke depan, pengembangan Sitinggil Garden bakal jadi prioritas. Berupa perpaduan wisata alam dan edukasi. Salah satu yang jadi daya tarik pengunjung, yakni wisata petik sayur dan buah. Termasuk rencana pembuatan monumen dengan bahan dasar aluminium.

Sebagai catatan, mayoritas masyarakat Desa Kembang Kuning merupakan perajin aluminium peralat dapur. Inilah yang bisa dijadikan wahana edukasi bagi pengunjung yang mengajak anak-anaknya.

“Kami juga akan membuat miniatur rumah adat. Pembangunan Sitinggil Garden merupakan proyek multiyears. Ada empat tahapan yang menghabiskan dana Rp 1,2 miliar,” tandasnya. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram
#Wisata Petik Sayur dan Buah #Desa Kembang Kuning #Sitinggil Garden