Jembatan gantung sepanjang 120 meter dan lebar 1,8 meter ini menghubungkan Dusun Ringin dengan Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang. Meski baru diresmikan Ketua DPR RI Puan Maharani, kamis (20/1), namun jembatan yang berdiri tepat di sisi wahana gondola wisata tersebut sudah jadi ikon wisata baru di Kota Bersinar.
Jangan tanya jumlah pengunjung yang ingin menikmati sensasi melintasi jembatan gantung. Di akhir pekan, wisatawan yang datang jumlahnya ribuan. Sampai-sampai mereka harus rela antre berjam-jam untuk sekadar jalan kaki melintasi jembatan gantung.
“Tiap akhir pekan (pengunjung) full terus. Sekitar 5.000 wisatawan yang melintas. Kalau hari biasa rata-rata ratusan pengujung,” kata Kepala Desa (Kades) Tegalmulyo Sutarno di sela peresmian.
Saking tingginya animo wisatawan, pemerintah desa (pemdes) setempat sampai kebingungan mencari lokasi parkiran. Terutama pengunjung yang datang naik mobil pribadi. Jumlahnya ratusan unit.
“Kantong-kantong parkir kami siapkan di Dusun Ringin. Tetapi kalau jumlah kunjungan terus meningkat, kami harus mencari lahan parkir baru,” imbuh kades.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati jembatan gantung, wajib mematuhi aturan yang berlaku. Aturan tersebut tertulis di papan pemberitahuan yang dipasang Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPU-PR), selaku pelaksana proyek. Salah satunya, kapasitas pengunjung yang melintas dibatasi maksimal 40 orang.
“(Pengunjung) harus giliran dan tidak boleh foto selfie di tengah jembatan. Kami siagakan petugas untuk mengatur. Kami tempatkan di sisi Dusun Ringin maupun di Girpasang,” papar Sutarno.
Aturan lainnya, wisatawan dilarang bersandar pada pagar pembatas. Bagi pengunjung yang masih di bawah umur alias anak-anak, saat melintas wajib didampingi dan diawasi orang dewasa. “Ketika hujan deras jembatan ditutup. Tidak boleh melintas karena sangat berbahaya,” tegas kades.
Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tegalmulyo Purnama membenarkan antusiasme wisatawan berkunjung ke Girpasang meningkat tajam, akhir-akhir ini.
“Semoga jembatan gantung ini bisa memajukan sektor pariwisata di sini. Sekaligus mendongkrak perekonomian warga sekitar,” bebernya.
Sementara itu, proyek jembatan gantung ini menelan anggaran Rp 3,6 miliar dari APBN. Konstruksinya menggunakan rangka baja ringan. Dibangun di atas ketinggian 150 meter dari dasar jurang yang selama ini mengapit Dusun Girpasang .
Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten Sri Nugroho mengaku sudah memberikan masukan terkait pemanfaatan jembatan gantung tersebut. Di antaranya wajib membentuk satgas yang di dalamnya terdapat tim Search and Rescue (SAR) untuk mencegah hal-hal yang tidak dinginkan.
“Saya juga memberikan masukan untuk penguatan kuliner lokal di sana. Salah satunya membanhun kedai kopi, menyesuaikan potensi lahan kopi di Dusun Girpasang,” katanya.
Pembantu Pengawas Lapangan, Kementerian PU-PR Pajar Suryanto menambahkan, jembatan gantung ini mampu menahan beban 40 orang saat berhenti. Bisa dilintasi sepeda motor, khusus warga Girpasang.
“Proses pembangunan jembatan gantung ini sempat mengalami kendala. Terutama pengiriman material ke seberang (Dusun Girpasang) yang harus menggunakan gondala barang milik warga. Tidak bisa menggunakan alat berat,” tandasnya.
Warga Gino, 37, warga Dusun Girpasang mengaku terbantu dengan hadirnya jembatan gantung. Kini, warga sekitar tak lagi menyusuri 1.001 anak tangga saat hendak menuju Dusun Ringin.
“Biasanya jalan kaki naik-turun anak tangga butuh waktu 20 menit sampai ke Dusun Ringin. Sekarang lewat jembatan gantung hanya butuh waktu 3 menit. Kalau naik motor lebih cepat lagi, tapi ya deg-degan juga” ujarnya.
Puan Maharani usai peresmian mengaku, jembatan gantung ini bukan sekadar alat penghubung antardusun. Namun bisa menjadi magnet untuk menarik minat wisatawan. Selain itu, dia juga berpesan agar Pemkab Klaten mulai memetakan lokasi yang hendak digunakan untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Termasuk menyiapkan toilet yang representatif bagi kawasan wisata.
“Dua hal ini cukup penting dalam mendukung pengembangan wisata. Sehingga warga lereng Merapi semakin sejahtera,” pesannya.
Sebagai catatan, Saat ini sudah menjamur UMKM yang menjajakan kuliner di sekitar jembatan gantung. Seiring tingginya kunjungan wisata. Mulai dari kedai kopi, hingga aneka manakan dan minuman lainnya. (ren/fer/dam) Editor : Damianus Bram