Lahan seluas hampir 2 hektare tersebut awalnya perkebunan pohon sengon. Kini disulap menjadi hamparan kebun buah dan kolam renang. Ratusan pohon buah menarik perhatian pengunjung. Mulai dari berbagai durian, jambu air, jambu klutuk dan kristal, jeruk keprok, pepaya, kelengkeng dan lainnya. Jika buah sudah masak, pengunjung bebas memetiknya.
Ya, agrowisata Kebon Gulo ini dikemas dengan nuansa alam yang menyegarkan. Lokasinya memang agak masuk, dari pertigaan Dusun Dali, Desa Ringin Larik masuk ke kiri. Setelah menemukan perempatan dusun, mengambil ke kanan. Pengunjung akan disambut dengan patung durian besar. Begitu masuk ke dalam, hamparan pohon jambu, taman dan berbagai tanaman buah menyambut.
”Dibangun sejak 2018 silam, agrowisata ini mulai dibuka akhir 2020. Ide awalnya hanya ingin Desa Kebon Gulo ini dikenal masyarat luas. Jadi saya nekat membabat pohon-pohon sengon. Tahap pembangunan sampai pengelolaan saya lakukan mandir. Modalnya nekat,” jelasnya saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di lokasi, kemarin (18/2).
Meski berada di tengah lahan tegalan, agrowisata Kebon Gulo mampu menarik pengunjung luar kota. Seperti Cirebon, Solo, Sukoharjo, Klaten dan lainnya. Bahkan tiap Minggu, rombongan wisatawan yang naik sepur kelinci menyerbu kawasan ini. Pengunjung tembus hingga 2 ribu orang per minggu. Tiket masuk hanya Rp 10 ribu. Pengunjung bebas mengeksplorasi agrowisata.
Kolam renang juga dibuat dengan berbagai kedalaman. Untuk anak, remaja dan dewasa. Air kolam berasal dari sumur dalam. Sehingga jernih dan segar jika digunakan untuk berendam. Poin menariknya, pengunjung bebas memetik buah. Asal dimakan dan tidak dibuang-buang. Sayangnya, tanaman buah durian, manga, dan kelengkeng masih proses pertumbuhan. Setidaknya harus menunggu lima tahun lagi jika ingin mencicipinya.
”Untuk tanaman buah di sini ada sekitar 500 an pohon. Saya beli benihnya habis sampai Rp 500 juta. Terutama bibit durian yang paling mahal. Kami ada 19 jenis tanaman buah. Kalau sudah berbuah, biasanya jadi rebutan pengunjung,” terangnya.
Sutoko mengaku, banyaknya pengunjung menjadi kepuasan tersendiri. Karenanya pengembangan akan dilakukan. Terutama untuk menyediakan homestay, kantor, meeting room indoor, tempat kebugaran, dan kolam air hangat. Sebab banyak wisatawan luar kota yang kecele karena mengira ada fasilitas homestay. Sehingga pengembangan akan dilakukan bertahap.
”Meski sudah ada joglo yang disewa untuk pertemuan-pertemuan, tapi masih kurang mencukupi. Tapi dengan konsep ini, masyarakat juga lebih nyaman karena kami menyediakan banyak gazebo untuk bersantai. Kalau mau buah, tinggal petik asalkan di makan,” katanya.
Nah, bagi pengunjung yang ingin berwisata ke agrowisata Kebon Gulo, jangan lupa untuk booking tempat, terutama saat weekend. Selain bebas mengekplorasi taman dan berenang pengunjung juga bisa memesan kukiner lokal. Seperti getuk, klenyem dan bergedel yang terbuat dari ubi manis. Agrowisata ini dibuka setiap hari, mulai pukul 07.00-17.00.
Kini sudah belasan usaha kecil menengah (UKM) yang digandeng. Bahkan pekerja agrowisata ini juga berasal dari warga setempat. Selain memanfaatkan lahan tegalan menjadi destinasi wisata, Sutoko mampu memberdayakan masyarakat setempat. Salah satunya dengan menyajikan oleh-oleh kuliner khas yang terbuat dari ketela dan singkong. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram