Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Eksotisme Candi Lawang dan Sari, Cepogo, Boyolali

Damianus Bram • Minggu, 11 Desember 2022 | 16:00 WIB
BERSEJARAH: Kondisi terkini Candi Lawang di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Candi Hindu ini peninggalan abad 9. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
BERSEJARAH: Kondisi terkini Candi Lawang di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Candi Hindu ini peninggalan abad 9. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Lereng Gunung Merapi-Merbabu Boyolali banyak ditemukan berbagai macam candi dan situs arkeologi. Di antaranya Candi Lawang dan Candi Sari di Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo.

Eksotisme candi-candi bercorak Hindu Siwa ini terletak di kaki Bukit Bibi. Jarak antara Candi Lawang ke Candi Sari hanya sejauh 1,4 kilometer. Candi Lawang terletak di Dusun 1. Sedangkan Candisari di Dusun II. Rute paling mudah bisa ditempuh melalui Stadion Kebogiro, Paras, Cepogo. Kemudian ke barat hingga bertemu pertigaan di Desa Gedangan.

Pada percabangan jalan tersebut akan ada papan penanda. Pertama ke arah utara untuk menuju ke Candi Lawang. Sedangkan arah selatan menuju Candi Sari. Candi Lawang terletak di belakang bangunan rumah warga. Jika Candi Lawang dalam kondisi utuh, patut disebut miniatur Candi Prambanan. Lantaran, ada beberapa tumpukan batu di sisi timur, utara, barat dan selatan.

Terlihat pula struktur batu seperti kemuncak candi. Tumpukan batuan candi tersebut merupakan reruntuhan dari candi perwara atau candi pengiring. Di tengahnya berdiri candi induk dengan ukuran lebih besar. Namun, hanya tersisa kaki dan gawang pintu. Fondasinya cukup tinggi, hingga dua tingkat.

Ketika menaiki tangga masuk candi induk, ada batas yang tak boleh dilewati. Yakni pintu masuk menuju area tengah candi yang terdapat yoni besar. Nah, di gerbang sisi kanan tersebut, terdapat pahatan aksara Jawa kuno yang dibaca ju thi ka la ma sa tka. Lalu pada dinding candi, terdapat berbagai ukiran seperti motif tirai berhias dedaunan dan ukiran kertas tempel berbentuk persegi.

Situs Candi Lawang ini juga ditemukan Yoni, Arca Agastya serta arca Durga Mahisasuramardini. Mitologi dewi umat Hindu yang memiliki delapan tangga. Kedua arca tersebut sudah disimpan di Museum Radyapustaka. Tak hanya itu, eksotisme candi semakin lengkap saat melihat lagam bangunan candi yang merujuk antara periodesasi pembangunan rentang 750-800 masehi.

Sementara Candi Sari mengarah ke barat. Meski sempat menemui jembatan curam, namun terbayar dengan keanggunan Candi Sari. Bangunan arkeologi ini terletak di atas bukit yang dikeliling kebun pertanian warga. Sisi barat membentang ke utara terlihat Gunung Merapi dan Merbabu yang gagah. Candi Sari berukuran minimalis, hanya menyisakan fondasi bawah. Di atasnya terdapat empat buah batu andesit berbentuk seperti ratna.

Photo
Photo
BERDEKATAN: Candi Sari terletak tidak jauh dari Candi Lawang. Panorama alamnya sangat menawan. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

Candi Sari bernafaskan agama Hindu. Terlihat dari temuan Yoni dan satu arca nandi tanpa kepala. Diprediksi peninggalan zaman Mataram Hindu kuno.

”Situs Candi Sari ini peninggalan sekira abad 9, Mataram Hindu kuno,” kata Juru Pelihara Candi Sari Sutrisno.

Situs Candi Sari ditemukan sejak zaman pemerintahan Belanda atau sekira 1915. Ketika ditemukan, kondisi baru-batuan candi berserakan. Namun, arca-arca yang ditemukan masih bagus. Arca-arca tersebut disimpan di muskala Semarang, sebagian di kantor BPCB Prambanan.

”Masalahnya ini kan tempatnya terbuka, penjagaannya tidak 24 jam. Jadi menghindari risiko-risiko kehilangan itu, biar nggak hilang itu yang bagus-bagus memang diamankan. Jadi sudah sejak 1976 ditempatkan juru pelihara dari BPCB Jateng. Makanya masih terawat dengan baik,” katanya. (rgl/adi) Editor : Damianus Bram
#Candi Bercorak Hindu Siwa #desa gedangan #Candi Sari #Candi Lawang