Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kompleks Masjid dan Makam Ki Ageng Butuh di Plupuh, Sragen: Jejak Religi dan Sejarah Joko Tingkir

Damianus Bram • Minggu, 17 Maret 2024 | 23:57 WIB
TERAWAT: Masjid Butuh di Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Sragen sering didatangi peziarah dari berbagai daerah untuk mengenang Joko Tingkir.
TERAWAT: Masjid Butuh di Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Sragen sering didatangi peziarah dari berbagai daerah untuk mengenang Joko Tingkir.

RADARSOLO.COM - Masjid dan Makam Joko Tingkir di Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Sragen ini jadi bukti penyebaran Islam di Tanah Jawa.

Saat ini makam tokoh besar yang juga dijuluki Sultan Hadiwijaya tersebut semakin menarik hati para peziarah.

Kompleks Masjid Butuh terawat dengan baik. Hanya saja akses jalan kurang luas jika hendak dilalui kendaraan besar. Meski demikian, peziarah dari berbagai penjuru negeri selalu datang dan singgah.

Bahkan pada bulan Ramadhan ini, juga banyak diziarahi para anggota TNI. Karena kebetulan desa Gedongan sebagai lokasi digelar kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Tentu sebagai rasa hormat pada jasa Joko Tingkir, para tentara selepas tugas juga berziarah dan beribadah di kompleks Masjid Butuh.

Kompleks Masjid Butuh ini tidak hanya satu makam, namun dengan sejumlah makam tokoh besar lainnya.

Seperti Ki Ageng Kebo Kenongo dan Kanjeng Pangeran Benowo. Peziarah cukup banyak ketika sore atau malam hari.

Terutama pada malam Jumat Legi banyak yang mendoakan Joko Tingkir. Bahkan mereka yang datang pada umumnya rombongan dari berbagai kota.

Kepala Desa (Kades) Gedongan Maryanto menyampaikan, saat ini Masjid Butuh dan kompleks makam ini sebagai salah satu tempat wisata religi. Ada makam Joko Tingkir dan ayahnya Ki Ageng Butuh yang disemayamkan di lokasi tersebut.

”Semoga kedepan pariwisata yang ada di tempat kami semakin berkembang, Semakin memajukan ekonomi dengan mendorong UMKM yang ada di desa kami,” bebernya.

Pihaknya menjelaskan, hampir setiap hari ada peziarah yang berkunjung ke makam Ki ageng Butuh.

Apalagi pada akhir pekan seperti Jumat, Sabtu, Minggu. ”Pada hari biasa, sehari puluhan orang, kalau akhir pekan bisa lebih dari 100 orang yang berziarah,” ujarnya.

Banyak yang mendoakan tokoh yang banyak berperan dalam perkembangan sejarah kerajaan Islam di pulau Jawa tersebut.

Dalam semalam bisa ratusan yang datang. ”Bisa dicek lewat buku hadir bagi peziarah,” terangnya.

Tidak jarang rombongan yang hadir dari berbagai kota. Seperti daerah Jawa Timur maupun daerah pantura.

Pada umumnya malam Jumat, tapi akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu juga dikunjungi. Selain itu bupati Sragen selalu berziarah ketika jelang HUT Kabupaten Sragen.

Selain Makam Sultan Hadiwijaya, di kompleks tersebut juga disemayamkan makam Ki Ageng Butuh dan keturunannya.

Makam ini lantas dibuatkan pagar bangunan oleh Pakubuwana X Kasunanan Surakarta sekira 1930.

”Beliau raja yang mengayomi masyarakat selama pemerintahannya. Masjid Butuh salah satu ikon Sragen yang bisa dikembangkan,” jelasnya. (din/adi)

Editor : Damianus Bram
#Sultan Hadiwijaya #Ki Ageng Kebo Kenongo #Masjid Butuh #ramadhan #Kanjeng Pangeran Benowo #joko tingkir