RADARSOLO.COM – Wilayah Kecamatan Kalijambe, Sragen cukup dikenal dengan kepurbakalaannya. Termasuk kawasan desa Bukuran yang kerap ditemukan fosil berbagai fragmen. Sebagai bentuk apresiasi, dibuat tiga monumen lokasi ditemukannya fosil sejak awal.
Mengunjungi monumen lokasi fosil di Bukuran butuh energi dan semangat yang besar. Jaraknya sekira 30 kilometer dari Sragen kota. Sebenarnya untuk akses lintas kecamatan menuju lokasi cukup baik. Namun di titik lokasi monumen bukan akses yang mudah dilalui.
Terdapat tiga monumen di Desa Bukuran. Di antaranya Monumen Drepo di Dusun Drepo. Bentuknya melingkar dengan tiang di tengah lokasi.
Untuk menuju lokasi, melewati jalan setapak yang tidak mungkin dilalui kendaraan roda empat. Sehingga harus dilalui dengan kendaraan roda dua. Kondisi jalan yang tidak terlalu bagus. Berjarak 300 meter dari jalan desa.
Di lokasi tersebut ditemukan adanya endapan lempung hitam formasi Pucangan yang mencirikan pada era plestosen bawah. Dengan lapisan sekira 1,8 juta-0,9 juta tahun lalu. Pada era tersebut kawasan Sangiran mulai berubah dari lingkungan laut menjadi lingkungan rawa.
Pada lapisan ini terdapat banyak temuan fosil makhluk hidup rawa. Seperti kuda sungai, buaya, dan kura-kura. Selain itu ada fosil seperti berbagai eno molusca dari jenis gastropoda maupun bivalvia. Selain itu di lokasi ini terdapat fosil manusia purba Homo Erectus.
Selanjutnya ada monumen Mawardi. Bentuk monumen tidak banyak perbedaan. Hanya saja, lokasi lebih terpencil dan lebih sulit dilalui. Lokasinya di tengah area sawah dan kebun dari warga setempat.
Monumen Mawardi ini menceritakan lokasi tersebut terdapat lapisan pasir vluvio vulkanik. Formasi kabuh yang mencirikan lingkungan pada era pleistosen tengah. Di Sangiran menggambarkan berupa hutan terbuka.
Di lokasi tersebut, pernah ditemukan fragmen tengkorak Homo Erectus. Penemu fosil yakni mbah Mawardi diabadikan namanya dalam monumen itu. Dia secara tidak sengaja menemukan fosil ketika tengah mengerjakan lahan pada 1995-1997.
Ketiga terdapat monumen Sendang. Lokasinya berada di tempat yang lebih tinggi. Untuk mengaksesnya, harus melewati pemakaman umum warga setempat. Lokasinya tepat di samping pemakaman warga.
Monumen Sendang sama seperti monumen Drepo, kawasan tersebut meninggalkan jejak era pestosen bawah. Lokasi tersebut juga ditemukan fosil fragmen tengkorak Homo Erectus. Penemuan secara tidak sengaja oleh warga atas nama Sarmin pada 1987.
Kepala Desa Bukuran Heriyanto menjelaskan, pembangunan monumen tersebut pada era 2000-an. Lokasi sekitar juga sudah menjadi hak pengelolaan pihak Museum Sangiran. Namun dia berharap ada perhatian lebih terkait monumen yang dibangun di kawasan Desa Bukuran.
”Kenapa dibangun di tengah-tengah desa dan hanya dibangun monumen saja. Tapi tidak dibangun sekalian akses jalannya,” ujarnya.
Dia menambahkan, akses jalan sudah dibebaskan menjadi kewajiban museum. Namun tidak ada pembangunan. Sehingga tidak nyaman buat akses pengunjung.
”Harapan kami, dibangun kan bisa menarik wisata. Di Bukuran ada tiga monumen, harapannya bisa menarik untuk wisata dan bermanfaat untuk kesejahteraan warga,” ujarnya. (din/adi)
Editor : Adi Pras