RADARSOLO.COM - Bagi yang hobi wisata ziarah, boleh dicoba berkunjung ke Makam Ki Ageng Balak di Desa Mertan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo. Makam ini mempunyai banyak cerita sejarah.
Makam Ki Ageng Balak merupakan salah satu objek wisata yang dikelola Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
Makam kuno di pinggir anak sungai Bengawan Solo ini selalu ramai peziarah dari berbagai daerah.
Untuk ke makam ini, disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi sepeda motor atau mobil. Karena, lokasinya di tengah perkampungan yang tidak dilalui kendaraan umum.
Kalau tidak ada kendaraan pribadi, bisa menggunakan moda transportasi bus. Kemudian turun di Terminal Sukoharjo Kota, lalu melanjutkan dengan taksi, ojek online maupun ojek pangkalan.
Lokasinya cukup mudah dijangkau dan dekat dengan pusat kota Kabupaten Sukoharjo, hanya sekitar 10 sampai 15 menit berkendara.
”Makam Ki Ageng Balak selalu ramai pengunjung saat malam Jumat Kliwon,” kata Agus Widanarko, pegiat pariwisata dan ekonomi kreatif Sukoharjo, kemarin (2/8).
Para peziarah di Makam Ki Ageng Balak datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bahkan, ada dari luar pulau Jawa.
Mereka terkadang menginap selama beberapa hari di areal makam. Mereka tidur di tempat terbuka atau di pendapa makam beralaskan tikar yang disewa.
”Menurut cerita dari mulut ke mulut, Ki Ageng Balak merupakan nama samaran Raden Sujono, putra Brawijaya V pada era kekuasaan Majapahit. Raden Sujono membangkang dan pergi dari istana lantaran dipaksa menikah dengan wanita yang bukan pujaan hatinya. Maka disebut Balak (membangkang),” katanya.
Menurut Danar, terdapat sebuah tradisi yang dilakukan di makam ini, yaitu Ritual Pulung Langse Ki Ageng Balak. Ritual ini dilakukan dengan mengganti kain selubung/ kelambu penutup makam.
”Ritual Pulung Langse sendiri diadakan tiap tahun setiap bulan Suro,” ujarnya.
Ritual ini dimulai dengan kirab gunungan mengelilingi kompleks makam. Setelah selesai, isi gunungan tersebut dibagi-bagikan kepada warga.
Biasanya, dimeriahkan dengan tari tarian tradisional untuk memeriahkan acara. Makam ini dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat sekitar dan pemerintah daerah sebagai penambah pendapatan asli daerah (PAD). (kwl/adi)
Editor : Damianus Bram