Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Misteri Batu Besar di Pasar Watukelir, Weru, Sukoharjo: Jadi Tempat Favorit Dalang Bertirakat

Iwan Kawul • Senin, 16 September 2024 | 01:10 WIB
LESTARI: Batu besar di bawah pohon asem di kompleks Pasar Watukelir, Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo yang sering digunakan untuk tirakatan.
LESTARI: Batu besar di bawah pohon asem di kompleks Pasar Watukelir, Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo yang sering digunakan untuk tirakatan.

RADARSOLO.COM - Di dalam Pasar Watukelir, Kecamatan Weru, Sukoharjo terdapat sebuah batu yang sangat besar.

Batu besar tersebut sering digunakan para dalang untuk tirakatan. Konon lokasi tersebut dulunya sering digunakan untuk dakwah.

Pasar Watukelir ini terletak di Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.

Lokasinya cukup strategis. Tepat di segi tiga emas Kota Makmur bagian Selatan. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, Wonogiri, dan Klaten.

Konon, Watukelir dulunya merupakan sebuah kota tua. Tepatnya di era Kasultanan Demak. Mungkin lebih tua.

Karena tak jauh dari Watukelir, tepatnya di Desa Karanganyar, Weru, terdapat Candi Sirih yang kabarnya dibangun bersamaan dengan Candi Prambanan.

Dulunya, Watukelir sering menjadi lokasi dakwah Ki Ageng Banyubiru alias Ki Kebo Kanigoro. Paman dari Joko Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang.

Di sana juga terdapat petilasan yang dikenal sebagai Sendang Banyubiru. Hanya berjarak sekitar 200 meter dari Watukelir.

“Salah satu tokoh penyebar agama Islam di Sukoharjo sisi selatan adalah Kyai Ageng Purwoto Sidik. Nama lainnya Kebo Kanigoro atau Kyai Ageng Banyubiru,” kata pemerhati Sejarah dan budayawan asal Sukoharjo Yudi Janoko, kemarin (14/9/2024).

Dulu, Kyai Ageng Banyubiru Purwoto Sidik mengembara untuk berdakwah bersama istri dan anak-anaknya.

Mengajarkan agama Islam tanpa menggunakan paksaan, sesuai yang diajarkan guru-gurunya. Salah satunya melalui media wayang kulit. Sesuai ajaran gurunya, Sunan Kalijaga.

“Petilasan Watukelir itu di tengah Pasar Watukelir. Dulu pada zaman Wali Songo, di tempat itu sering digunakan untuk berdakwah. Melalui pergelaran wayang kulit di bawah pohon asem yang rindang. Kalau tidak salah pohon asemnya sudah berumur ratusan tahun,” imbuh Yudi.

Di bawah pohon asem ini terdapat batu besar yang bentuknya mirip papan. Tegak dan bersandar pada pohon asem.

“Sejarah kelir itu kan tirai pada panggung untuk menggelar acara wayang kulit. Di bawahnya ada yang datar, yang mirip panggung. Jadi namanya Watukelir,” papar Yudi.

Tiap malam Jumat Kliwon (penanggalan Jawa), batu tersebut damai dikungjungi orang untuk untuk tirakatan. Biasanya mereka membawa sesaji dan dupa untuk dibakar.

“Dulu banyak yang berkunjung untuk tirakatan. Biasanya yang tirakatan itu para dalang. Berharap pentas wayang kulitnya berjalan lancar,” sambung Hadi, 60, warga setempat. (kwl/fer)

Editor : Damianus Bram
#Weru #batu besar #tirakatan #Pasar Watukelir #sukoharjo #dalang #wisata